Yayasan Kasimo Usul Hidupkan Kembali PMP, Ini Tujuannya

0 179

JAKARTA- Badan Pengurus Pusat Yayasan I.J. Kasimo turut mengomentari aksi bom bunuh diri yang terjadi di depan pintu gerbang Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/03/2021) sekitar pukul 10.00 Wita.

Ketua Dewan Pembina Yayasan I.J. Kasimo Dr Stefanus Roy Rening, SH, MH menyentil soal Radikalisme dan fundamentalisme. Dua paham ini kata Roy bertujuan memperjuangkan suatu ideologi dan ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan mengganti Pancasila sebagai dasar negara melalui cara ekstrem.

“Kita semua warga bangsa yang cinta Indonesia ini harus bersatu padu melawan Radikalisme dan fundamentalisme. Radikalisme harus dijadikan “Musuh Bersama” oleh semua warga bangsa. Tidak ada tempat bagi mereka untuk hidup dan berkembang dalam bumi Pancasila ini,” ujar Roy di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Roy menegaskan, pihaknya mengutuk keras dan menyayangkan aksi bom bunuh diri di Makasar tersebut. Apalagi kata Roy, umat kristiani tengah memasuki Minggu Pekan Suci yang dimulai dengan Minggu Palma.

“Aksi Teror ini, sangat melukai perasaan umat kristiani khususnya dan warga bangsa Indonesia pada umumnya menjelang perayaan PASKAH 2021. Kita semua warga bangsa dituntut agar senantiasa mewaspadai Aksi Teror berikutnya yang sewaktu-waktu mungkin saja terjadi, apalagi menjelang hari besar keagamaan (Kamis Putih/Jumat Agung/Paskah),” tegasnya.

Roy pun mengapresiasi kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo yang memberikan perhatian serius atas peristiwa ini dengan memerintahkan sesegera mungkin aparat keamanan baik Panglima TNI maupun Kapolri untuk mengusut tuntas dan menindak secara tegas pelaku teror ini sampai keakar-akarnya.

“Semoga peristiwa semacam ini tidak lagi terjadi dimasa mendatang yang dapat mengganggu kebersamaan kita sebagai satu bangsa. Sebagai warga bangsa, kita semua dituntut memberikan harapan dalam mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik,” katanya.

“Hendaknya spirit “kita Bhineka-kita Indonesia-kita Pancasila” bukanlah sekedar fiksi, konsep atau teori belaka melainkan harus diwujudnyatakan dalam kehidupan kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan,” tambahnya.

Roy pun mengusulkan supaya mengkaji ulang guna menghidupkan kembali pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) mulai tingkat atau jenjang SD sampai perguruan tinggi.

“Sehingga nilai-nilai Pancasila dapat terinternalisasi dengan baik pada semua tingkatan /jenjang peserta didik untuk memperkokoh nasionalisme kita sebagai satu bangsa/negara yang besar yakni NKRI,” tegasnya.

“Kami menilai akibat dari ketiadaan mata pelajaran PMP, generasi muda kita telah kehilangan ideologi Pancasila sehingga sangat mudah disusupi oleh ideologi lain (transnasional) yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ideologi negara kita PANCASILA,” tukasnya. (Ricko).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.