Uang Pembelian TPU Ragok Disimpan Dalam Tas Kuning, Pemda Mengaku Buru-Buru

0 0

BORONG-Salah satu penjual tanah pekuburan umum (TPU) Ragok bernama Dominikus Jenaga dari Suku Kantar Wunis telah meninggal dunia tahun 2016 silam. Istri almarhum Dominikus yang namanya tak mau dipublikasikan dipercaya oleh sang suami dan beberapa penjual untuk menyimpan uang tanah hasil jual TPU Ragok.

Menurutnya, uang tersebut saat diterima dari Pemda Manggarai Timur tahun 2015. Saat itu uang tersebut tersimpan rapi di dalam tas berwarna kuning. Ia pun tidak mengetahui jumlah uang tersebut.

“Mereka mempercayai saya waktu itu untuk pegang uang. Uang tersebut mereka simpan dalam tas berwarna kuning. Setelah saya terima, saya simpan dalam lemari di rumah,” katanya kepada Infolabuanbajo.com, Jumat (21/5/2021).

Lanjut dia, para penjual tersebut memintanya untuk memegang uang. Sebab uang tersebut milik umum. “Uang tersebut uang umum. Kata mereka juga itu uang jual tanah,” tambahnya.

Uang hasil penjualan tanah tersebut rupanya masih tersimpan tanpa dibelanjakan sejak tahun 2015. Sebab tahun 2016 silam, para penjual yang masih hidup mendatangi rumah istri Dominikus untuk mengambil uang.

“Setelah suami saya meninggal, ketiga penjual lainya datang ke rumah. Mereka meminta kembali uang yang sebelumnya mereka mempercayai saya untuk pegang uang tersebut. Saya pun langsung mengambil uang tersebut yang masih tersimpan rapi di dalam tas berwarna kuning. Sampai saat ini uang tersebut ada di tangan mereka,” bebernya.

Mantan Kaur Desa

Salah satu mantan Kepala Urusan (Kaur) Desa Bangka Kantar Adrianus Mahu (56) mengaku menjadi salah satu saksi yang turut tanda tangan jual beli TPU tersebut tahun 2015.

“Saya bersama toko masyarakat lainnya ikut dalam tanda tangan jual beli tanah Ragok. Cuma saat itu kehadiran Pemda Matim tiba-tiba saja. Katanya saat itu mau tanda tangan penjualan tanah Ragok,” jelasnya.

Menurut Adrianus, Pemda saat meminta tanda tangan warga mengaku terburu-buru. Masyarakat pun hanya mengikuti arahan Pemda. Kata Adrianus, Pemda saat itu membeli TPU dengan harga Rp160.000.000.

“Tapi informasi belakangan ini, kami dengar tanah Ragok itu dihibah oleh ke-empat tua suku. Makanya kami bingung, mana yang benar, mereka jual atau di hibah,” katanya.

Adrianus menambahkan, pihaknya sebagai perangkat desa saat itu sempat kaget mendengar TPU Ragok dijual.

“Pemda suruh kami tanda tangan terburu-buru. Apalagi saat itu, saya sebagai perangkat desa. Makanya saya ikut tanda tangan saja. Meski bunyi surat yang kami tanda tangan tidak baca baik,” jelasnya.

Warga yang tinggal di Kampung Ragok sebelum dijadikan TPU ternyata ada yang masih hidup. Salah satunya Petrus Lengge. Petrus adalah warga keturunan suku kantar. Petrus menceritakan bahwa ia bersama orang tuanya tinggal di kampung Ragok sekitar tahun 1948.

“Sampai saat ini, hanya saya satu-satunya yang masih hidup yang pernah tinggal di kampung Ragok,” kisahnya.

Petrus pun dengan tegas tidak membiarkan Pemda Manggarai Timur mengklaim sepihak TPU Ragok.

“Saya selaku toko masyarakat yang pernah tinggal di kampung Ragok, saya tidak akan biarkan tanah Ragok jadi milik Pemda. Tidak mungkin saya jual kuburan orang tua saya,” tukasnya. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.