Temui Sahabat di Ruteng, Ansy Lema Sebut NTT Raksasa Yang Tidur

0

RUTENG– Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDIP Yohanis Fransiskus Lema mengunjungi kerabat alumni Seminari Pius XII Kisol di kediaman Heribertus P. N. Baben beralamat di jalan Renya Rosari, No.3 Kampung Maumere, Ruteng, Manggarai ,Flores NTT, Minggu (30/5/2021).

Kedatangan pria yang akrab disapa Ansy itu disambut secara adat Manggarai. Ansy dikalungkan dengan selendang dan topi songke Manggarai. Suasana gembira para sahabat saat menerima Ansy memecah keheningan kota yang super dingin itu.

Temu akrab yang diisi dengan bincang ria siang itu memberi makna tersendiri bagi para hadirin. Sontak, lagu selamat ulang tahun dinyanyikan secara bersamaan memberi kesan ulang tahun dari ketiga sahabat Alumni Sanpio itu. Para sahabat yang ulang tahun yakni Heribertus P N Baben, Yani Rewos dan Hendrik Dao.

Rohaniwan Katolik dari Keuskupan Ruteng Dr. Maksimus Regus menyampaikan selamat datang kepada Ansy. Menurut Romo Max, kehadiran alumni Sanpio XII di kursi Parlemen sangat membawa warna baru. Selain terlibat juga ada keberpihakan pada Masyarakat NTT yang diwakilnya, tentu sangat membanggakan.

“Sebagai saudara, kami sangat mendukung langkah politik dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui parlemen,” tuturnya.

Dari tempat yang sama, Heribertus P.N. Baben salah seorang alumni Seminari Satu Pius XII Kisol mengatakan bahwa dirinya sangat berterimakasih kepada Ansy yang telah bergabung dalam temu akrab dengan teman alumni Sanpio.

“Memang Pak Ansy sering datang ke Manggarai, namun baru saat ini beliau bisa hadir di tengah teman-teman alumni Sanpio,” ungkap Hery.

“Teman teman alumni juga ingin menunjukan dukungan kepada beliau atas apa yang telah diperjuangkan oleh Pak Ansy melalui Kursi DPR RI untuk kemakmuran Rakyat,” tambahnya.

Sementara Ansy sendiri menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan SMP dan SMA di seminari Kisol. Menurut Ansy, mental spritualitas yang terbentuk di sana yang menghantarkannya ke kursi DPR RI.

“Tentu juga atas kemurahan Tuhan, saya juga menjadi dan dipilih Rakyat untuk menjadi DPR. Saya menjadi anggota dewan memiliki nilai spirit dan nilai yang harus diperjuangkan,” ungkap Ansy.

Sebagai anggota DPR kata Ansy, dirinya melakukan eksperimen dalam berpolitik. Selain itu kata dia juga melakukan eksperimen seperti merubah cara berpikir masyarakat tentang kehadiran DPR di kursi parlemen. Semisal, kata dia, terkadang masyarakat kerap kali menilai DPR hadir hanya untuk datang, duduk, diam, duit, saya coba merubah hal itu.

“Ketika menggelar rapat, saya sering membuat Vidio dan posting, sehingga masyarakat tahu setiap Minggu itu saya buat apa dan itu bagian dari transparansi,” tuturnya.

Mungkin ini pengaruh dari latar belakang dari pernah belajar di Kisol, pernah menjadi presenter, dan pernah menjadi dosen dan aktivis. Hal demikian kata dia, harus bisa buktikan, dijalankan dan bisa dilakukan.

NTT itu adalah Raksasa yang tidur, semua potensi ada di NTT. Tergantung pemimpinnya. Lanjutnya, siapa bilang NTT itu miskin? NTT itu kaya. Mungkin hari ini NTT itu miskin dari fisik.

“Itu makanya saya tidak pernah minder membicarakan NTT di level nasional. Saya selalu ingin dikenal sebagai anak muda yang terus menyuarakan NTT,” ungkap Ansy.

Berbicara data, angka kemiskinan NTT berada di 20 persen. Lanjutnya, kemiskinan NTT ada di pedesaan. Lebih dalam ia menuturkan, apa profesi mereka yang di pedesaan?, yakni Petani. Dalam 10- 15 tahun NTT tidak perna lepas dari angka kemiskinan berkisar disitu. Kalau di pesisir, mereka adalah Nelayan kecil tradisional, atau peternak.

“Kita buka 20 persen itu, itu adalah gambaran NTT. NTT hari ini tidak jauh lebih baik dari Papua dan Papua barat, dan itu sedih. Nomor 3 termiskin di Indonesia. Nomor 4 adalah Maluku, tetapi Maluku berada di 16 persen. Saya punya satu keyakinan, bahwa terjadi perubahan atau transformasi itu tergantung pemimpin,” tandasnya.

Dulu, waktu masuk pertama di DPR, sering orang pleset NTT dengan sebutan yang buruk, degan posisi bercanda mereka sebut Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong.

“Saya langsung sebut, NTT, Nelayan, Tani, Ternak. Tiga sektor ini sangat berpotensial yang harus dikembangkan. Terkait Tani , Nelayan dan Ternak, saya bilang, coba kasih mereka eksavator, kasih alat pasca panen, pra panen, pendampingan yang bagus, ada integrasi yang knowledge, teknologi, bohong kalau pertanian NTT tidak maju,” tegasnya.

Dikatakannya hal itulah yang membuat dirinya mengangkat tema politi salah satunya mahalkan nilai jual NTT di tingkat Nasional, ia mengaku tak pernah malu menjadi orang NTT. Nelayan, Tani, Ternak itulah NTT.

Bicara soal pariwisata, kata Ansy, Labuan Bajo sebagai pariwisata super premium kalau tidak di topang oleh ketiga sektor ini, maka jangan sampai kebutuhan mendasar seperti sayur dan buah buahan harus didatangkan dari luar.

“Di Labuhan Bajo, pembangunan hanya mulai dari pesisir dan dari kota saja. Sementara sentra pertanian dan peternakan belum mulai dibangun, saya kira Labuhan Bajo menjadi kesempatan dan peluang bagi kita untuk mendapatkan benefit,” tutupnya. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.