Tak Punya Dasar Hukum Novel Baswedan CS Diangkat Jadi ASN

0

JAKARTA– Koordinator Tim Pembela Demokrasi (TPDI) Petrus Selestinus menegaskan, desakan Ahli Hukum Themis Indonesia Law Firm dan Dewi Keadilan serta Wadah Pegawai KPK agar Presiden Jokowi mengambil alih permasalahan 57 Pegawai KPK nonaktif akibat tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) agar diangkat menjadi aparatur Sipil Negara (ASN) pada KPK tidak memiliki dasar hukum apapun.

“Permasalahan Novel Baswedan dkk (tak lolos TWK-red) sudah dibawa ke ranah proses hukum dan bisa saja akan masuk dalam sengketa Perdata dan/atau Tata Usaha Negara dalam lingkup wewenang Badan Peradilan TUN yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun termasuk oleh Presiden Jokowi,” ujar Petrus kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Menurut Petrus, kesalahan mendasar Novel Baswedan dkk dalam menyikapi keputusan pimpinan KPK saat menonaktifkan mereka adalah tidak menggunakan upaya administratif guna mendapatkan perlindungan hukum akibat tindakan hukum Pejabat Tata Usaha Negara sebagaimana amanat UU No. 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan.

Padahal kata Petrus, upaya Administrasi itu sebagai pintu awal penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara, ketika tindakan Pejabat Tata Usaha Negara yang dinilai telah merugikan seseorang atau badan hukum perdata, bukan membawa sengketa TUN ke Presiden.

“Karena Presiden tidak boleh mengintervensi suatu permasalahan yang masih dalam proses sengketa,” katanya.

Petrus menegaskan, saatnya pimpinan KPK segera mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pemberhentian secara definitif terhadap Novel Baswedan dkk.

“Bagi yang tidak puas terhadap SK pemberhentian karena menimbulkan akibat hukum dan merugikan mereka, ya dipersilakan menuntut secara Tata Usaha Negara sesuai dengan kepentingan dan kerugian yang diderita,” tegasnya.

Secara prinsip kata Petrus, KPK dan BKN bekerja berdasarkan sistem norma, standar, kriteria dan prosedur dalam mengelola Administrasi pemerintahan. Karena itu ketika ada pihak-pihak yang merasa tidak sejalan lagi dengan kebijakan Pimpinan KPK, berdasarkan UU, langkah yang ditempuh adalah mengunakan Upaya Administratif dan/atau Upaya Hukum melalui Badan Peradilan.

“Presiden menurut UU ASN, merupakan penanggung jawab tertinggi dalam kebijakan pembinaan profesi dan manajemen ASN, dengan demikian, maka desakan agar Presiden Jokowi mengambil alih tanggung jawab permasalahan Novel Baswedan dkk, sangat tidak relevan karena tanggung jawab Presiden hanya bagi mereka yang sudah berstatus ASN, sedang Novel Baswedan dkk. bukan ASN,” jelasnya.

Petrus menilai, permasalahan Novel Baswedan dkk sesungguhnya persoalan perdata biasa yang memerlukan penyelesaian dengan pendekatan Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Tata Usaha Negara.

“Namun anehnya perkara Novel Baswedan dkk. ditarik terlalu jauh hanya untuk menekan Presiden melalui opini publik, agar Novel Baswedan dkk. di ASN kan, padahal negara kita adalah Negara Hukum bukan negara Opini Publik,” tegasnya.

Hukum Administrasi Pemerintahan kata Petrus jelas mengatur tentang bagaimana langkah yang hendak diambil ketika suatu tindakan pejabat Tata Usaha Negara dinilai telah melanggar hukum dan merugikan bagi seseorang atau badan hukum perdata, yaitu menyerahkan penilaian atas sah tidaknya tindakan pejabat dimaksud pada putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

“Dalil sejumlah pihak dengan bersandar pada peringatan Presiden Jokowi agar tidak memberhentikan mereka yang tidak lolos TWK, tidaklah berdasar karena peringatan Presiden bukan perintah UU, melainkan sebuah sikap negarawan yang memberi spirit agar mereka yang ikut TWK harus lulus dan bisa jadi ASN di KPK, bukan sebaliknya tidak lolos, lantas minta diangkat menjadi ASN pada KPK,” tukasnya. (Her)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.