Sekjen PMKRI Bogor Sebut Kades Tak Boleh Bohongi Warga Desa Golo Mangung

0 0

BORONG– Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Bogor Heribertus Rustian angkat bicara terkait dugaan proyek mangkrak jalan lapisan penetrasi (Lapen) ke Wae Lawas, Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Heribertus menyoroti janji Kepala Desa Golo Mangung Engelbertus Anam terhadap media terkait kelanjutan pengerjaan proyek lapen tersebut. Menurut Heribertus, Kades Engelbertus telah membohongi publik atas janjinya.

“Kata dia saat diberitakan media ini bahwa akan melanjutkan kerja Lapen tersebut pada bulan Juni kemarin. Tetapi sekarang sudah bulan Juli, belum juga dikerjakan. Ini kan namanya pembohongan,” ujar Heribertus kepada Infolabuanbajo.com, Sabtu (3/7/2021).

Sejatinya kata Heribertus, Kades Engelbertus menjelaskan kepada warga Desa Golo Mangung secara jujur, bukan memberi harapan palsu. Pemimpin harus menjadi contoh untuk masyarakat.

“Kelihatannya ada hal yang diduga disembunyikan terkait proyek Lapen tersebut sehingga tidak dikerjakan hingga saat ini. Apa pun alasannya, Dana sudah dianggarkan dalam APBDES. Apalagi CV-nya tak dipublikasikan,” tukasnya.

Sebelumnya Kepala Desa Golo Mangung Engelbertus Anam membenarkan anggaran proyek lapen tersebut berjumlah Rp700 juta yang bersumber dari dana Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun 2019. Ia mengatakan akan lanjut dikerjakan bulan Juni.

“Kemarin itu yang sudah dikerjakan hanya satu kilo saja dan dalam bulan ini (Juni-red) nanti akan dilanjutkan lagi pekerjaannya,” ujar Engelbertus kepada Infolabuanbajo.com, Jumat (25/6/2021).

“Kalau soal aspal yang tersisa, kita lihat nanti. Kalau masih layak, bisa dipakai lagi ataupun tidak. Itu tergantung nanti kalau saat lanjut pekerjaan,” tambahnya.

Engelbertus pun berkelit saat ditanya CV yang mengerjakan proyek tersebut. Engelbertus beralasan lupa dengan CV yang bermitra dengan desa yang dipimpinnya itu.

“Waktu itu dikerjakan oleh CV. Namun CV-nya saya sudah lupa. Apa sudah namanya itu hari. Intinya CV yang bermitra dengan Desa saat itu,” katanya.

Bingung

Engelbertus pun mengaku bingung dengan pengelolaan Dana Desa (DD). Ia beralasan baru menjabat Kepala Desa pada tahun 2020 silam. Apalagi kata Engelbertus Sumber Daya Manusia (SDM) desa yang dipimpinnya tidak memadai dalam mengelola uang yang berjumlah miliaran itu.

“Kadang SDM kitakan terbatas. Di satu sisi yang kita kelola ini uang yang banyak. Kalau kami kerja salah, siap terima resiko. Jujur, kami SDM terbatas. Maunya coba sesekali pegawai dari BPMD ataupun Inspektorat datang ke Desa atau bisa undang semua Kades, agar kami bisa diberikan pelatihan cara mengelola Dana Desa biar kami bisa sedikit paham,” jelasnya.

Engelbertus pun mengeluh dengan pendamping desa yang hanya berijazah SMA. Menurutnya, mereka tidak bisa membantu pekerjaan di desanya.

“Mesti ada dari Dinas sesekali datang buat pelatihan begitu. Biar kami punya pengetahuan bisa bertambah untuk cara mengelola Dana Desa,” keluhnya.

Sedangkan Bendahara Desa Damianus Ajak mengaku tidak memegang uang meski dirinya dipercaya sebagai Bendahara.

“Pak saya tidak perlu diwawancara. Apa yang dijelaskan oleh Pak Kades , seperti itu sudah. Lagian saya kan tidak pegang uang. Memang saya benar bendahara tapi saya tidak terlalu tahu. Intinya apa yang dijelaskan kades, itu sudah saya,” katanya. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.