Proyek Lapen ke Wae Lawas Sudah Rusak, Kades Golo Mangung Berkelit Tak Tahu Nama CV

0 0

BORONG-Jalan lapisan penetrasi (Lapen) yang menghubungkan Wae Paci ke Wae Lawas, Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur kini sudah rusak. Proyek yang dikerjakan tahun 2020 tersebut hanya dikerjakan satu kilometer dengan pagu anggaran Rp700 juta.

Pantauan Infolabuanbajo.com di lokasi, sejumlah material jenis kerikil dan aspal berjumlah 10 drum berserakan di samping jalan dan semak-semak. Selain itu terlihat drum aspal yang sudah dibuka, namun isinya belum dipakai.

HR ( 38) salah satu warga Desa Golo Mangung mengaku kesal dengan proyek lapen tersebut. Ia menilai proyek tersebut tidak berkualitas.

“Kami selaku masyarakat sangat kecewa. Sebab pekerjaan lapennya hanya satu kilometer saja. Padahal anggarannya Rp700 juta lebih,” ujar HR kepada Infolabuanbajo.com, Jumat (25/6/2021).

Lanjut HR, sejumlah warga juga kesal dengan proyek yang tidak dilanjutkan tersebut. Padahal anggarannya sudah dikucurkan. “Mengapa sampai tidak dilanjutkan pekerjaannya? Terus uang itu selama ini dikemanakan?,” tanya HR.

HR juga mempertanyakan kepada pihak Desa yang tidak memasang papan proyek pengerjaan lapen tersebut. Menurut HR, papan proyek tersebut wajib dipasang supaya masyarakat tahu jumlah anggaran yang digunakan.

“Biar kami masyarakat tahu, berapa anggarannya dan berapa kilo pekerjaannya. Kami sangat merindukan pekerjaan yang kualitas dan tidak boleh lebih mengutamakan keuntungan lalu mengabaikan kualitas,” tegasnya.

Sementara Kepala Desa Golo Mangung Engelbertus Anam membenarkan anggaran proyek tersebut berjumlah Rp700 juta yang bersumber dari dana Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun 2019. Ia mengatakan akan lanjut dikerjakan bulan Juni ini.

“Kemarin itu yang sudah dikerjakan hanya satu kilo saja dan dalam bulan ini nanti akan dilanjutkan lagi pekerjaannya,” ujar Engelbertus kepada Infolabuanbajo.com, Jumat (25/6/2021).

“Kalau soal aspal yang tersisa, kita lihat nanti. Kalau masih layak, bisa dipakai lagi ataupun tidak. Itu tergantung nanti kalau saat lanjut pekerjaan,” tambahnya.

Engelbertus pun berkelit saat ditanya CV yang mengerjakan proyek tersebut. Engelbertus beralasan lupa dengan CV yang bermitra dengan desa yang dipimpinnya itu.

“Waktu itu dikerjakan oleh CV. Namun CV-nya saya sudah lupa. Apa sudah namanya itu hari. Intinya CV yang bermitra dengan Desa saat itu,” katanya.

Bingung

Engelbertus pun mengaku bingung dengan pengelolaan Dana Desa (DD). Ia beralasan baru menjabat Kepala Desa pada tahun 2020 silam. Apalagi kata Engelbertus Sumber Daya Manusia (SDM) desa yang dipimpinnya tidak memadai dalam mengelola uang yang berjumlah miliaran itu.

“Kadang SDM kitakan terbatas. Di satu sisi yang kita kelola ini uang yang banyak. Kalau kami kerja salah, siap terima resiko. Jujur, kami SDM terbatas. Maunya coba sesekali pegawai dari BPMD ataupun Inspektorat datang ke Desa atau bisa undang semua Kades, agar kami bisa diberikan pelatihan cara mengelola Dana Desa biar kami bisa sedikit paham,” jelasnya.

Engelbertus pun mengeluh dengan pendamping desa yang hanya berijazah SMA. Menurutnya, mereka tidak bisa membantu pekerjaan di desanya.

“Mesti ada dari Dinas sesekali datang buat pelatihan begitu. Biar kami punya pengetahuan bisa bertambah untuk cara mengelola Dana Desa,” keluhnya.

Sedangkan Bendahara Desa Damianus Ajak mengaku tidak memegang uang meski dirinya dipercaya sebagai Bendahara.

“Pak saya tidak perlu diwawancara. Apa yang dijelaskan oleh Pak Kades , seperti itu sudah. Lagian saya kan tidak pegang uang. Memang saya benar bendahara tapi saya tidak terlalu tahu. Intinya apa yang dijelaskan kades, itu sudah saya,” katanya.

Gaspar Nangga, Kepala Dinas Badan Pemberdayan Masyarakat Desa (BPMD) belum berhasil di konformasi. Infolabuanbajo.com sudah berupaya menghubunginya, namun nomor yang bersangkutan sedang tidak aktif. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.