PMKRI Ruteng Sebut Polres Mabar Berbohong

0 1,377

RUTENG-DPC PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus mengecam keras pernyataan Kapolda NTT, Kapolres dan Dandim Manggarai Barat (Mabar) atas kasus penganiayaan terhadap Yosef Sudirman Bagu oleh terduga oknum polisi dan TNI di kampung Siri Mese, Desa Golo Poleng, Kec. Ndoso, Kabupaten Mabar.

Ketua DPC PMKRI Ruteng Hendrikus Mandela menegaskan, pernyataan para petinggi oknum Polisi dan TNI selama ini tidak sesuai fakta sebenarnya. Mandela menilai, pernyataan tersebut merupakan bentuk pembohongan publik.

“Kuat dugaan saya bahwa berbagai informasi melalui media daring yang beredar dalam beberapa hari terakhir, sejak tanggal 19 Maret merupakan bentuk pembohongan terhadap publik. Informasi-informasi tersebut seperti yang termuat dalam pernyataan Kapolda NTT, Kapolres dan Dandim Mabar,” ujar Mandela kepada wartawan, Kamis (24/3/2021).

Menurut Mandela, pihaknya telah mengkonfirmasi kepada korban terkait informasi yang dimaksud. Korban menjelaskan, informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta yang dialami korban.

“Korban mengaku bahwa benar ada informasi yang melenceng dari fakta yang ada, sebagaimana yang dialami oleh korban,” tegasnya.

Mandela membantah telah terjadi mediasi dan perdamaian antara korban dan terduga pelaku. Selama ini kata Mandela, pihak kepolisian dan TNI serta Kepala Desa memohon untuk berdamai. Tetapi belum mencapai kesepakatan.

“Berdasarkan pengakuan korban, sangat jelas masalah belum didamaikan. Apalagi secara adat Manggarai, belum. Menurut korban, memang selama ini empat kali terduga pelaku menemui korban dan keluarga untuk berupaya mendamaikan kasus secara adat,” katanya.

“Empat kali pertemuan itu dilakukan mulai tanggal 19 Februari, 23 Februari, 5 Maret, dan 17 Maret. Namun semuanya gagal, tidak pernah mencapai kesepakatan. Pada pertemuan terakhir, dari pihak terduga pelaku meminta agar diberikan waktu selama satu pekan karena katanya mereka akan berdiskusi kembali terkait ini,” tambahnya.

Mandela menduga Kapolda NTT dan Dandim Mabar menerima laporan fiktif dari pihak tertentu yang berkepentingan dalam kasus ini.

“Bisa saja berasal dari masyarakat, dari bawahan di masing-masing instansi, maupun dari pihak-pihak lain. Belum bisa dipastikan siapa di balik ini semua,” tegasnya.

Mandela juga membantah pernyataan Kapolres Mabar yang menyebut sudah menyurati korban untuk memenuhi panggilan penyidik.

“Ini tidak benar. Korban mengaku dirinya selama ini tidak pernah menerima surat panggilan dari penyidik. Kecuali pada tanggal 19 Maret lalu, setelah ramainya pemberitaan melalui media tentang kasus yang menimpa korban, korban mendapat telfon dari Polsek Kuwus, yakni dari bapak Gede dan diminta untuk memenuhi undangan klarifikasi kasus di Polres Manggarai Barat pada tanggal 24 Maret,” jelasnya. (Ricko).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.