Pertama Kali di Indonesia Ditemukan Pengguna Visa Elektronik Palsu

0 74

JAKARTA- Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Soekarno-Hatta menemukan kasus pengguna visa elektronik palsu Republik Indonesia. Kasus tersebut merupakan untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta pihak Imigrasi selalu waspada dan meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi jika ada pemalsuan tersebut.

Bambang pun meminta aparat keamanan untuk mengusut tuntas hal tersebut karena melanggar Pasal 121 huruf B Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

“Menindak tegas pihak yang terbukti terlibat dalam pemalsuan visa elektronik tersebut sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Minggu (28/3/2021).

Selanjutnya Bambang meminta pemerintah bersama Imigrasi menjadikan hal tersebut sebagai evaluasi secara menyeluruh untuk menutupi semua kekurangan di era digital saat ini.

“Kedepannya sistem keamanan dan pengajuan untuk visa elektronik dapat lebih diperketat sehingga memiliki zero chance untuk dipalsukan,” katanya.

Imigrasi kata Bambang harus meningkatkan dan memperketat pemeriksaan warga negara asing (WNA) yang keluar dan masuk ke Indonesia. Dalam hal ini memastikan identitas, paspor, dan visa biasa maupun elektronik orang asing tersebut asli.

“Aparat keamanan bersama pihak Imigrasi untuk menelusuri sindikat pemalsuan visa elektronik tersebut hingga ke jaringan utamanya, mengingat sindikat yang bergerak dalam pembuatan visa elektronik palsu mulai muncul sejak pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan yang membatasi keluar masuknya WNA,” tukasnya.

Dkketahui Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta menemukan penggunaan visa elektronik palsu saat menangkap tiga warga negara India, yakni MK, MJB, dan SKV.

Penangkapan ketiga warga negara asing (WNA) itu dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, pada 22 Februari 2021 dan 12 Maret 2021. (Ricko). 

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.