Pemda Sebut Bandel, Pedagang Pasar Borong Sentil Mafia Ruko

0

BORONG-Para pedagang pasar Rana Loba, Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) geram dengan pernyataan Sekretaris Dinas Koperasi UKM, Industri Dan Perdagangan (Koprindag) Matim Efraim D. Gula yang menyebut mereka bandel.

Para pedagang tersebut berjualan di luar Gedung pasar bukan tanpa alasan. Padahal Pemda Matim sendiri yang membuat para pedagang itu terlantar. Hal ini dikatakan oleh pedagang yang berinisial MS (36) kepada Infolabuanbajo.com, Selasa (13/4/2021).

“Kami tidak bandel. Kami kesal terhadap pemerintah yang mengatakan para pedagang bandel. Justru pemerintah membuat kami terlantar berjualan di Pasar Borong. Bayangkan, kami berjualan di Pasar Borong semenjak gedung pasar dan sejumlah ruko yang di bangun oleh pemerintah belum ada,” tegas MS.

“Dulu kami bayar uang karcis ke pemerintah. Kami bayar seingat saya empat kali dalam setahun. Terkadang kami bayar sampai Rp350 ribu waktu itu. katanya, biar pasar borong itu ada kas,” tambahnya.

Setelah gedung pasar dibangun kata MS, konstruksi bangunannya tidak menguntungkan para pedagang. MS analogikan gedung pasar Rana Loba tersebut seperti rumah tahanan Narapidana.

“Jujur kami tidak bisa bertahan untuk berjualan di dalam pasar. Di dalam itu panas, gedung tertutup sekali, barang dagangan kami cepat kering dan rusak,” tegasnya.

Pemda Matim kata MS sejatinya tidak pilih kasih menertibkan para pedagang. MS berharap pemda keluarkan kebijakan supaya semua pedagang yang berjualan di Pasar Borong harus di dalam gedung. “Sehingga tidak adanya pasar tandingan di luar gedung,” tegasnya.

Hal senada juga diutarakan oleh Thomas (35). Ia juga menuding Pemda Matim membangun gedung pasar seperti rumah bui. Hal tersebut membuat dirinya memilih berjualan di luar gedung.

“Bagaimana kami mau bertahan jualan di dalam gedung, kalau bangunannya macam rumah bui. Terus kami yang lain diarahkan berjualan di dalam sedangkan para pedagang yang berjualan di atas tanah kontrakan, pemerintah biarkan untuk berjualan. Masa kami berjualan di dalam gedung terus di luar ada jualan pasar tandingan,” jelasnya.

Tomas juga mengungkapkan alasan yang mendasar yang membuat semua para pedagang di pasar Borong tidak mau ikut arahan Pemerintah.

Thomas pun menyentil bangunan Rumah Toko (Ruko) berlantai dua yang dibangun Pemda yang letaknya berdekatan dengan Gedung Pasar.

“Saya tantang Dinas Koperindag Matim. Kalau berani Pemerintah tunjukan semua nama-nama pemilik ruko di Pasar Borong, kan tidak berani. Pemilik Ruko di Pasar Borong Itu satu orang ada yang memiliki sampai tiga bahkan empat Ruko,” katanya.

Bahkan kata Thomas, tak sedikit Ruko tersebut yang diperjualbelikan oleh oknum tertentu. “Pedagang sekarang merasa pemerintah tidak adil karena masih banyak orang yang lebih membutuhkan Ruko tapi tidak dapat,” tegasnya.

Selain itu pedagang yang berinsial SA (34) dengan tegas menolak arahan pemerintah untuk menjual di dalam gedung pasar, sebelum gedung tersebut direnovasi. “Pemerintah jangan salahkan terus kami pedagang. Di satu sisi pemerintah juga punya kesalahan, yaitu membiarkan para mafia jual beli Ruko di Pasar Borong,” tegasnya.

SA pun menantang Pemda Matim untuk memberikan data pemilik Ruko ke para pedagang. Hal tersebut kata SA supaya lebih transparan nama-nama penyewa Ruko tersebut. Sebab sejauh ini banyak Ruko tersebut yang tidak dimanfaatkan.

“Coba kita cek. Banyak Ruko yang tidak pernah digunakan oleh para pemiliknya untuk Jual barang dagangannya. Bagaimana kita yang lain tidak kecewa,” jelasnya.

Ruko tanpa aktifitas penjualan

Pantauan di lokasi, ada 40 Ruko yang masih terkunci dan belum diketahui para penyewanya. Sebab belum ada aktifitas penjualan di dalam Ruko tersebut.

“Kita yang lebih membutuhkan dan siap untuk berjualan malah tidak dapat jatah Ruko. Sedangkan yang pendatang baru di pasar Borong Malah dapat Ruko tapi anehnya kok tidak ada aktifitas jualannya. Ada apa?,” tanya nada tegas. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.