Pasar Rana Loba Bak Rumah Hantu, Pemda Matim Tuding Pedagang Bandel

0 429

BORONG– Pasar diidentikan dengan keramaian. Namun fakta berbeda dengan gedung Pasar Rakyat Rana Loba, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Kini gedung pasar tersebut bak rumah hantu. Padahal sudah selesai dibangun pada tahun 2018. Namun pasar tersebut belum difungsikan. Pantauan Infolabuanbajo.com di lokasi, sejumlah pintu masuk gedung tersebut masih terkunci rapat.

Tampak dalam pasar Rana Loba Borong

Sekretaris Dinas Koperasi UKM, Industri Dan Perdagangan (Koprindag) Matim Efraim D. Gula kepada Infolabuanbajo.com membenarkan bahwa pasar tersebut belum difungsikan.

“Ia memang benar sekali bahwa Pasar Rakyat Rana Loba itu sudah tidak digunakan lagi kurang lebih dua tahun,” kata Efraim, Kamis (8/4/2021).

Efraim mengaku, pihaknya telah minta para pedagang untuk memakai gedung tersebut. Namun tak ada pedagang yang mengindahkan arahan itu.

“Para pedagang ini kan terkadang tidak ikut kita. Mereka juga kadang bandel. Masa kita ikut terus mereka punya mau saja,” katanya.

Bahkan kata Efraim, pihaknya telah merenovasi gedung pasar tersebut sesuai permintaan para pedagang. Namun saat ini sedang dikerjakan dan pihaknya berjanji akan rampung tahun ini.

“Tinggal beberapa titik yang belum, Kalau soal atap, MCK itu sudah kami perbaiki. Kalau semuanya sudah rampung, maka kami akan arahkan untuk gunakan fasilitas yang dibuat pemerintah,” jelasnya.

Efraim pun mengancam para pedagang yang berjualan di luar gedung pasar. Pihaknya akan bertindak tegas terhadap para pedagang yang tak ikuti aturan.

“Nanti kami juga akan tindak tegas dan tidak ada lagi yang berjualan di luar pasar. Yang punya tempat sendiri dan berdekatan dengan pasar, nanti mereka boleh jual asalkan sembako saja . Tapi kalo barang jualan jenis lainnya kami tidak ijinkan. Nanti semuanya akan di arahkan untuk berjualan di dalam gedung pasar,” katanya.

Menanggapi Pemda Matim, seorang pedagang pasar yang berinisial NY (35) menegaskan, bangunan gedung pasar tersebut tidak sesuai dengan keinginan pelaku pasar. Ia pun membeberkan alasannya tak berjualan dalam gedung tersebut.

“Di dalam gedung terlalu panas, sirkulasi udaranya kurang bagus. Panas sekali di dalam. Barang dagangan tidak bisa bertahan lama, cepat kering karena terlalu panas,” jelasnya.

“Tak hanya itu, meja yang di sediakan untuk menjajakan barang dagangan juga, terlalu tinggi dan sempit. Kami tidak bebas saat melayani pembeli. Gedung terlalu tertutup. Jujur kami tidak bisa bertahan di dalam gedung,” kisahnya.

Begitu pula yang dialami pedagang yang berinisial AS (43). Dia mengaku kesal dengan bangunan pasar tersebut. Kata dia, bangunan internal pasar tersebut sangat sulit untuk melayani para pembeli.

“Jujur saja, kami sempat berjualan di dalam tapi baru beberapa bulan, kami tidak bisa tahan karena panas. Tak hanya itu, pendapatan kami saat di dalam gedung juga menurun karena pembelinya sepi,” katanya.

Dia menyarankan kepada pemerintah supaya tidak mengizinkan beberapa pedagang berjualan di luar pasar jika gedung tersebut sudah direnovasi.

“Pemerintah tidak boleh izin para pedang lainya untuk berjualan sebebasnya di luar gedung pasar. Kalau mau aman ya harus kompak berjualan di dalam gedung. Biar tidak ada yang istilah pasar tandingan di luar gedung. Kami sangat berharap kepada pemerintah agar mengambil langka tegas,” tukasnya. (Firman Jaya)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.