Meski Langgar UU Migas, Penjual Bensin Eceran Berkeliaran di Kota Borong

0

BORONG-Undang-Undang (UU) melarang penjualan kembali Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina oleh masyarakat demi mencari keuntungan. Hal tersebut diatur dalam pasal 53 UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas). Ancaman pidananya maksimal tiga tahun penjara dengan denda maksimal Rp 30 miliar.

Namun fenomena tersebut sudah menjadi rahasia umum. Ancaman UU Migas seolah tidak dihiraukan oleh masyarakat di Kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Penjualan BBM jenis bensin secara bebas menghiasai kota Borong.

Pantauan Infolabuanbajo.com, terdapat 23 titik tempat penjualan bensin secara eceran di seputaran kota borong. Akibat maraknya penjualan secara eceran, persediaan BBM di SPBU kota Borong cepat habis.

Hendrikus (35), salah satu warga Kota Borong geram dengan penjualan BBM eceran tersebut. Padahal, jarak penjualan BBM eceran dengan SPBU saling berdekatan.

Hendrikus mengaku kesal dengan fenomena tersebut lantaran dirinya tidak pernah mendapat bagian pembelian langsung BBM di SPBU. Kata Hendrikus, BBM jenis bensin di SPBU kota Borong habis terjual pada pukul 08.00 WITA.

“Di seputaran kota Borong bahkan dekat sekali dengan pertamina masih banyak sekali yang jual bensin eceran. Berarti pertamina lebih melayani mereka yang mau bisniskan kembali bensinnya dari pada kami,” ujar Hendrikus kepada Infolabuanbajo.com.

Hendrikus pun meminta pihak pertamina melakukan pengawasan ketat. Saking geramnya, ia menyarankan pihak Polres Matim menertibkan penjualan illegal tersebut.

“Saya berharap kepada Polres Manggarai Timur untuk melakukan pengawasan secara ketat terhadap Pertamina di Kota Borong. Tindak tegas apabila menemukan penimbunan Bensin Bersubsidi untuk dijualkan kembali secara eceran di sepanjang jalan Kota Borong,” tegasnya.

Sementara seorang tukang ojek yang mengaku berumur 24 tahun dan namanya tak mau dipublikasikan memastikan para penjual BBM eceran tersebut bekerja sama dengan para calo.

“Saya sering lihat mereka beli bensin di pertamina. Kadang mereka beli untuk isi di jerigen tapi mereka belinya lewat orang lain, lewat calo begitu,” katanya.

Herson selaku operator SPBU Kota Ndora pun tak membantah adanya pengisian BBM melalui jerigen dan motor tersebut. Meskipun secara aturan SPBU melarang penjualan secara eceran.

“Kami tidak pernah izinkan masyarakat untuk isi bensin subsidi itu di jerigen. Karena kami takut nanti mereka jual kembali bensin itu. Kami hanya isi di kendaraan mereka,” katanya.

Herson mengaku tidak mengetahui para pembeli di SPBU tersebut untuk menjual kembali bensin yang telah dibeli. Namun pengakuan Herson berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Sebab terlihat maraknya penjualan bensin secara eceran di sekitaran SPBU.

“Soal mereka mau jual lagi, kami tidak tahu itu. Intinya kami tidak pernah izin untuk orang isi di jerigen dan diju kembali,” katanya.

Herson juga sependapat dengan Hendrikus yang menyebutkan BBM di SPBU tersebut cepat laku terjual.

“Saya akui kalau bensin subsidi itu cepat habis dan jam 08:00 pagi kadang sudah habis. Tapi memang ketersedian BBM jenis premiumnya itu terbatas. Jadi kita hanya siapkan 80.000 liter perbulan. jadi 80.000 ribu liter itu kita siapkan untuk selama satu bulan dan itu kita muat sampai tiga kali,” katanya.

“Kita juga pastinya tidak akan izin untuk isi di jerigen. Karena kita tahu kesediaan bensin subsidi terbatas. Apa lagi kita harus bisa targetkan 80.000 liter itu harus pas satu bulan,” tambahnya.

Seorang penjual BBM secara eceran di Jalan Wae Reca, Borong yang tak mau disebutkan namanya tak membantah proses pembelian BBM yang dijualnya menggunakan tanki kendaraan roda dua miliknya.

“Kita isi pakai kendaraan. Baru nanti dijual kembali. Karena kalau beli satu jumbo kita harus hati-hati. Saya isi pakai motor saja. Nanti sampai rumah baru masukin di botol,” katanya kepada Infolabuanbajo.com, Sabtu (24/4/2021). (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.