Membangun Semangat Kebaharian Melalui Pendidikan

0

*Oleh: Ben Senang Galus

Dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari. Kehebatannya terbukti pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Singosari, dan Majapahit. Namun setelah runtuhnya kerajaan besar tersebut, runtuh pulalah pamor bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari.

Tonggak sejarah kebangkitan semangat bahari terpacu kembali pada saat dicetuskannya kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun dalam perjalanannya mengalami pasang surut.

Bangsa Indonesia disebut sebagai Bangsa Pelaut, karena Nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut. Kehebatan bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut bukanlah cerita khayalan belaka. Sebagai bukti, apabila kita mengamati relief-relief di dinding-dinding Candi Borobudur Jawa Tengah.

Setidaknya terdapat 10 relief kapal layar bertiang tinggi. Tidak heran apabila pada abad ke-8, dalam sejarah bangsa Indonesia, para pelaut Nusantara telah mencapai Madagaskar di Benua Afrika, Daratan Tiongkok, Birma, Srilangka dan Australia. Era keemasan itu terus berlanjut pada abad ke-8 hingga ke-16.

Tiga kerajaan besar muncul pada saat itu, yakni Kerajaan Sriwijaya di Sumatra tahun 683 sampai tahun 1030, Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit tahun 1293 hingga 1478.

Namun sayang, kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari mulai meredup seiring dengan lenyapnya Kerajaan Majapahit, disusul masuknya VOC ke Indonesia pada tahun 1602 yang kemudian menjajah bangsa Indonesia sampai dengan ratusan tahun.

Akibatnya, terjadilah proses penurunan semangat dan jiwa bahari bangsa serta perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia. Idealisme kelautan sejak itu berubah menjadi idealisme kontinental atau daratan.

Sesungguhnya alam laut kita sangatlah luas dan strategis. Sebagai negara kepulauan, hampir dua pertiga wilayah Indonesia wilayahnya terdiri dari lautan luas. Letak geografisnya pun diapit oleh dua benua dan dua samudera, sehingga Indonesia berada di persimpangan jalur perdagangan dunia.

Kondisi alamiah ini bernilai positif bagi Indonesia di mata dunia sehingga memiliki nilai tawar yang tinggi. Laut Indonesia juga mempunyai kekayaan alam yang berlimpah. Wilayah laut Indonesia merupakan sumber mineral dan energi yang cukup potensial.

Di samping minyak dan gas bumi, juga mengandung mineral-mineral seperti mangaan, timah, pasir besi, dan mineral-mineral radioaktif. Mengingat banyaknya sumber daya mineral dan energi yang terdapat di wilayah laut Indonesia, tidaklah sulit untuk diperkirakan bahwa wilayah laut Indonesia akan merupakan suatu medan kegiatan industri yang penting untuk kehidupan dimasa yang akan datang.

Laut Indonesia juga kaya ikan yang beraneka ragam, rumput laut, memiliki kawasan terumbu karang serta taman-taman laut yang kesemuanya berpotensi sebagai sumber bahan untuk farmasi serta pariwisata bahari.

Wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau ternyata merupakan media transportasi yang sangat vital dalam menunjang pergerakan manusia, barang dan jasa antar pulau-pulau di Indonesia.

Di Samping itu juga mengingat letaknya yang melingkupi dan membatasi wilayah daratan, wilayah laut Indonesia sangat penting fungsinya sebagai medan pertahanan dan keamanan negara.

Membangun Semangat Kebaharian

Salah satu upaya dalam membangun kembali semangat kebaharian bangsa Indonesia adalah dengan memasukkan konsepsi kebaharian dalam kurikulum pendidikan nasional, utamanya pada jalur pendidikan formal di tingkat pendidikan dasar (SD, SMP, MI, MTS), Menengah (SMA, STM, SMK, MA) maupun tinggi (PTN, PTS).

Dengan masuknya materi Pendidikan Kebaharian sebagai bagian integral dalam kurikulum pendidikan nasional, maka diharapkan mampu menanamkan image positif tentang kelautan pada diri anak-anak yang kelak akan menjadi kader generasi penerus masa depan bangsa. Keberadaan Pendidikan Kebaharian merupakan manivestasi investasi jangka panjang yang dapat mengangkat citra bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari.

Pendidikan kebaharian mampu membangun sikap serta wawasan anak didik terhadap kondisi geografis Indonesia sebagai bangsa maritim dalam bentuk negara kepulauan yang terbesar di dunia. Dengan demikian wawasan dan pemahaman cinta bahari harus terus diajarkan dan dibiasakan sejak dini terhadap anak didik melalui pendidikan formal yang ada.

Bidang Kelautan Membutuhkan Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas
Potensi kelautan Indonesia sangat besar dan beragam, pemberdayaan maupun pengelolaannya mengandung permasalahan yang sangat kompleks.

Permasalahan terberat yang dihadapi oleh bangsa ini dan harus mendapatkan prioritas utama adalah bagaimana membangkitkan semangat bahari bangsa Indonesia yang kini telah mulai pudar, sehingga apa yang telah diupayakan oleh Pemerintah untuk mensosialisasikan pembangunan kelautan tidak menemui kendala yang berarti.

Salah satu cara yang dianggap tepat adalah dengan membangun sumber daya manusia melalui jalur pendidikan. Seluruh potensi laut Indonesia yang berlimpah ini, hanya bisa ditransformasikan menjadi aset riil apabila mendapatkan sentuhan iptek dan ditangani oleh SDM unggul yang profesional.

Sebenarnya telah banyak berbagai jenis pendidikan bidang kelautan dan perikanan di tanah air yang berkembang secara pesat. Kini tersedia 50 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang kelautan dan perikanan yang dibina Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Departemen Pendidikan Nasional.

Belum lagi jenjang pendidikan tinggi kejuruan D-III dan D-IV di bidang perikanan, kelautan maupun pelayaran. Disamping itu program-program kelautan dan perikanan bermunculan pula di Universitas-universitas di seluruh tanah air, baik jenjang S-1, S-2 maupun S-3. Ada pula berbagai program pelatihan jangka pendek guna melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi pelaut-pelaut yang mengawaki kapal-kapal niaga.

Munculnya lembaga pendidikan kelautan pada berbagai jenjang yang telah mencakup pelatihan-pelatihan, pendidikan menengah sampai dengan pendidikan tinggi, pendidikan kedinasan, dan lain-lain di satu sisi memang sangat menggembirakan dan membanggakan, namun disisi lain masih dipandang belum cukup untuk mengembalikan wibawa bangsa sebagai bangsa bahari di tengah-tengah suasana ekonomi yang dililit krisis multi dimensi ini. Mengapa demikian? Sebabnya adalah:

Pertama, lembaga pendidikan yang telah ada dan telah didirikan tersebut ternyata hanya mampu dirasakan oleh sebagian masyakarat kita. Jadi tidak seluruh rakyat Indonesia dapat menempuh pendidikan tersebut, karena terbatasnya jumlah sekolah dan tingginya biaya yang harus dikeluarkan apabila ingin menempuh pendidikan tersebut.

Kedua, visi kelautan atau kebaharian belum tertanamkan dalam jiwa sanubari yang paling mendalam, karena lembaga pendidikan yang telah dibentuk semata-mata cenderung dalam rangka memenuhi kebutuhan pangsa pasar kerja. Kalau demikian halnya yang terjadi maka tujuan dari esensi yang mendasar yakni membangun semangat bahari bangsa tidak akan pernah dapat terwujud.

Untuk menanamkan visi kelautan atau kebaharian dalam rangka membangun kembali semangat bahari, diperlukan upaya sejak dini dan berkelanjutan. Hal itu bisa dimulai pada pendidikan formal di setiap level yaitu di tingkat pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi.

Pendidikan Kebaharian pada semua satuan pendidikan formal yang tercantum dalam kurikulum pendidikan nasional adalah untuk menanamkan dan menumbuhkan kembali semangat serta jiwa kebaharian bangsa. Wujud muatan dalam kurikulum, bisa berupa pemberian mata pelajaran pendidikan kebaharian secara langsung ataupun dikemas dalam mata pelajaran lain yang telah ada.

Apabila dalam bentuk mata pelajaran pendidikan kebaharian maka akan memberi konsekuensi pada penyediaan guru-guru atau dosen bidang studi tersebut. Namun apabila dimuatkan pada mata pelajaran yang telah ada, satuan pendidikan tidak perlu menyediakan guru-guru atau dosen bidang studi. Namun perlu disiapkan pelatihan pada guru-guru atau dosen yang mata pelajarannya hendak diberi muatan kebaharian.

Terdapat suatu alasan yang mendasar mengapa pada pendidikan formal di semua jenjang pendidikan sangat tepat sebagai sarana membangun kembali semangat dan jiwa kebaharian bangsa Indonesia, yaitu: pendidikan formal pada semua jenjang pendidikan merupakan pendidikan yang pasti akan dilalui oleh setiap peserta didik.

Meskipun tidak semua peserta didik akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Pendidikan formal merupakan landasan dasar untuk dapat memahami konsepsi kebaharian secara menyeluruh (global), dan umum (universal).

Adapun keberadaan sekolah menengah pelayaran atau perikanan, akademi atau universitas yang membuka jurusan kelautan atau perikanan, mata pelajarannya sudah menjurus pada hal yang khusus (spesifik) dan tentu saja sudah mengarah pada suatu profesi tertentu atau pekerjaan tertentu.

Dengan ditetapkannya muatan materi kebaharian dalam kurikulum pendidikan nasional, maka diasumsikan bahwa nantinya semua warga negara Indonesia akan memperoleh pelajaran pendidikan kebaharian.

Dengan demikian pandangan kontinental atau ke daratan akan segera terkikis dengan sendirinya dan akan digantikan dengan pandangan yang baru yaitu wawasan kebaharian.

Untuk mengembalikan kejayaan bangsa sebagai bangsa bahari maka diperlukan upaya menanamkan dan menumbuhkembangkan jiwa kebaharian melalui jalur pendidikan formal pada setiap tingkatan pendidikan mulai tingkat dasar, menengah dan tinggi.

Pendidikan kebaharian harus dimasukkan dalam muatan kurikulum pendidikan nasional, apabila tidak, maka sangat sulit untuk mengubah atau mengembalikan paradigma bangsa yang telah terlanjur berbau kontinental menjadi paradigma bangsa yang berwawasan kebaharian sebagai negara kepulauan.

Upaya ini memang membutuhkan pengorbanan dan perjalanan yang sangat berliku dan cukup panjang, dengan permasalahan yang sangat kompleks. Untuk itu dibutuhkan komitmen kuat, kebersamaan dalam bekerja antar sesama komponen bangsa dan perjuangan yang sangat tinggi serta ulet guna mewujudkan cita-cita yang mulia.

*Penulis buku dan tinggal di Yogyakarta

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.