Manusia Flores Dari Liang Bua : Misteri Ukuran Otak (2)

0 0

*Oleh: Servas Pandur

We conclude that evolution from early Javanese H. Erectus to H. floresiensis was possible in terms of brain size.” Berdasarkan evolusi ukuran otaknya, Homo floresiensis (Manusia Flores) dari situs arkeologis Liang Bua (LB1) di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, mungkin berasal-usul dari Homo erectus awal dari Jawa.

Begitu kesimpulan riset tahun 2013 terhadap ukuran otak (endocranial volume/ECV) Homo floresiensis (MANUSIA FLORES) dari Associate Professor Daisuke Kubo, Reiko T. Kono, Ph.D., dan Dr. Yousuke Kaifu asal Jepang. (Daisuke Kubo, et al., 2013: 8).

Associate Professor Daisuke Kubo adalah ahli antropologi ragawi asal Department of Biological Sciences, The University of Tokyo, Hongo, Bunkyo-ku di Tokyo, Jepang. Reiko T. Kono, Ph.D. adalah ahli antropologi ragawi pada Department of Anthropology, National Museum of Nature and Science, Amakubo, Tsukuba-shi, Ibaraki, di Jepang. Bidang riset Reiko T. Kono, Ph.D. antara lain evolusi manusia, antropologi gigi dan 3D Digital Anthropology.

Reiko T. Kono, Ph.D. menelusur sejarah evolusi manusia dengan meneliti bentuk (morfologi) gigi, khususnya geraham manusia, hominoid, manusia modern, dan fosil atau sub-fosil. Ia juga belajar menemukan dan mengolah data 3D digital dari obyek alamiah seperti tulang dan gigi dengan teknik Computed Tomography dan aplikasi pencitraan 3D.

Keahlian Reiko T. Kono, Ph.D. menuntun risetnya ke fosil atau sub-fosil kerangka manusia pada situs gua Shiraho-Saonetabaru, Pulau Ishigaki, Prefektur Okinawa di Jepang, hingga sisa kerangka Homo floresiensis (Manusia Flores) asal situs arkeologis Liang Bua di Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dr. Yousuke Kaifu adalah antropolog asal Department of Anthropology, National Museum of Nature and Science dan Department of Biological Sciences di The University of Tokyo, Jepang.  Yousuke Kaifu juga menjadi Direktur pada proyek riset eksperimental “Holistic Reenactment Project” dan Ketua Division of Human Evolution pada National Museum of Nature and Science di Jepang.

Homo erectus mengalami dwarfisme di Pulau Flores, Negara RI. Ketiga ahli itu menggunakan perbandingan dengan ukuran-tubuh korelasi Homo sapiens berdasar 20 sampel populasi manusia modern. Tujuannya, ketiga ahli itu membuat model pengurangan ukuran otak atau evolusi otak Homo floresiensis. (Nature, 2013).

Riset Associate Professor Daisuke Kubo dkk mendapat dukungan dari peneliti-penemu sisa kerangka Homo floresiensis di situs arkeologi Liang Bua, Kabupaten Manggarai khususnya E. Wahyu Saptomo, Dr. Thomas Sutikna, Jatmiko asal Negara RI, dan Mike J. Morwood asal Australia.

Sedangkan Hisao Baba, John de Vos, Shozo Iwanaga dan Kyoko Funahashi memberi akses ke materi penelitian bagi Associate Professor Daisuke Kubo dkk. Tsuyoshi Kaneko dan Nobuhito Morota asal Jepang membuat komentar-ilmiah riset itu dan Gen Suwa mendukung CT scanning.

Riset Associate Professor Daisuke Kubo dkk terhadap ukuran otak Homo floresiensis didukung oleh dana hibah dari JSPS (no. 24247044) dan MEXT (no. 22101006) asal Jepang.

Selama ini, unsur penting Homo floresiensis ialah ukuran fisik dan kapasitas otak kecil (Brown et al., 2004:1055-1061); Morwood et al. (2005: 1012-1017). Bukti kerangka LB1
menunjukkan ciri orang dewasa dari spesies Homo floresiensis dengan otak sangat kecil 426 cm2 (sebelumnya berkisar 380-400 cc) (Kubo e al., 2013), tingginya hanya sekitar 106 cm (3’6″), dan beratnya sekitar 30-40 kg (66-86 lbs).

Bersambung……..

*Penulis adalah Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.