Manusia Flores dari Liang Bua: “Little Lady of Flores” (1)

0 0

*Oleh: Servas Pandur

Jurnal ilmiah Nature edisi 28 Oktober 2004 merilis kajian Dr. Peter Brown tentang satu spesimen tipe-tunggal (holotype) kerangka tubuh ukuran mini hominin dari penggalian di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tahun 2001-2004.

Dr. Peter Brown adalah ahli anatomi tengkorak, mandibula, gigi manusia purba dan modern asal University of New England di Australia. (Brown et al., 2004). Tahun 2004, Dr. Brown pertama kali memberi nama ilmiah dan deskripsi holotipe itu sebagai Homo floresiensis yakni spesies baru Homo (Manusia) atau spesies hominin berupa sisa-sisa kerangka manusia dari sedimen Pleistosen Akhir (LB1) Liang Bua (Brown, et al., 2004; Morwood et al., 2004, 2005; van den Bergh, 2016 ) di Kabupaten Manggarai, Flores, Negara Kesatuan RI.

LB1 dari situs Liang Bua adalah kerangka manusia yang cukup lengkap, termasuk tengkorak hampir lengkap dari seorang perempuan berusia 30 tahun dengan julukan “Little Lady of Flores” atau “Flo”. Sedangkan sebuah gigi, LB2 (hasil penggalian arkeologis), dirujuk ke spesies LB1 itu. (Brown, et al., 2004; Jungers, et al., 2009: 159–164).

Spesimen tipe-tunggal LB1 mencakup satu kerangka parsial (LB1) yang terdiri dari tengkorak, mandibula, dan beberapa sisa kerangka organ tubuh bagian bawah. Holotipe itu mencakup pula (tanpa deksprisi) tangan dan kaki tidak lengkap serta sisa-sisa atau fragmen kerangka lainnya.

Kerangka parsial LB1 ditemukan pada ke dalaman 5,9 m penggalian di Sektor VII LIANG BUA tahun 2003 dan sebagian besar sisa-sisa kerangka LB1 itu berasal dari lahan kecil sekitar 500 cm2 di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. (Brown et al., 2004; Morwood et al., 2004).

Penemuan spesimen holotipe LB1 di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores (NTT), memiliki jejak sejarah cukup panjang. Awal Juli 1965, arkeolog Theodorus (Theo) Lambertus Verhoeven, SVD (Societas Verbi Divini) (17 September 1907-3 Juni 1990) asal Belanda, melakukan penggalian pertama arkeologis dan penelitian situs Liang Bua.

Verhoeven menemukan 10 kerangka pada 6 kuburan manusia neolitik (modern), alat-alat batu, dan fosil-fosil Paulamys naso. (Knepper, 2019) Sebanyak 5 tengkorak manusia dari Liang Bua, berhasil direkonstruksi (DB Murti, 2011).

Berdasarkan penemuan alat-alat batu (stone tools) dan fosil-fosil itu, Dr. Verhoeven, SVD, menyimpulkan bahwa situs arkeologis Liang Bua di Kab. Manggarai, Flores, adalah “deze grot extra belangrijk” atau “gua sangat penting”.

(Knepper, 2019) Secara sains, penemuan itu khususnya alat-alat batu dan kesimpulan Verhoeven termasuk keunggulan dan kekuatan (strength) situs arkeologis Liang Bua di Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi NTT.

Verhoeven tidak menerbitkan penemuannya itu, karena ia tidak menyelesaikan penggalian dan penelitian di Liang Bua, Kab. Manggarai. Saat itu, Polisi melarang Verhoeven yang sudah mendapat izin penelitian di Liang Bua. (Jona Lendering, 2019; Knepper, 2019).

Ketika masih mengajar di Seminari Mataloko tahun 1952, Kab. Ngada, Flores, Verhoeven datang ke Liang Bua (Verhoeven, 1952). Awal 1950-an, Verhoeven, SVD, Wilhelmus van Bekkum, SVD, dan Adriaan Mommersteeg, SVD, meninjau zona barat Pulau Flores (Manggarai). Saat itu, Verhoeven
mengumpulkan material arkeologis dari permukaan Liang Bua (Verhoeven, 1952, 1968).

Dari kedalaman penggalian sekitar 1 (satu) meter di Liang Bua, Kab. Manggarai, Flores, awal Juli 1965, Verhoeven menemukan tembikar (pottery), kapak batu (stone adzes), dan taring babi (pig tusks) dari kuburan Neolitik. Fosil tengkorak anak ditemukan pada kedalaman 2 (dua) meter.

Artefak dan fosil fauna hasil penggalian Verhoeven di Liang Bua, tersimpan di Naturalis Museum of Natural History (Leiden, Belanda), Blikon Blewut Museum (Maumere, Flores), dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (ARKENAS) di Jakarta.

Akhir 1960-an, fosil kerangka (tengkorak dan gigi) manusia modern asal situs Liang Bua, dibawa ke Universitas Airlangga di Jawa Timur (Delta Bayu Murti, 2011). Homo floresiensis (MANUSIA FLORES) termasuk misteri bagi sains evolusi manusia.

Ahli-ahli sekitar 57 bidang IPTEK asal 91 perguruan tinggi top dunia meneliti dan mengkaji MANUSIA FLORES tahun 2004-2021. Misalnya, ahli-ahli asal Tokyo University (Jepang), Harvard University (Amerika Serikat), Sorbone University (Perancis), Cambridge University (Inggris), Tel Aviv University (Israel), meneliti dan mengkaji MANUSIA FLORES.

Bersambung…….

*Penulis adalah Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.