Manusia Flores dari Liang Bua: Lebih Tua dari Homo erectus (4)

0

*Oleh: Servas Pandur

“LB1 was not an insular dwarf and may have been a microcephalic modern human!” Atau Homo floresiensis (Manusia Flores) (LB1) bukan orang kate di sebuah pulau; tetapi, mungkin seorang manusia modern mikrosefalus (ukuran otak kecil). Begitu cuplikan kesimpulan riset dan kajian Robert D. Martin et al (2006) yang dirilis oleh jurnal The Anatomical Record edisi Mei 2006.

LB1 adalah sisa kerangka manusia yang ditemukan pada penggalian arkeologis di situs Liang Bua, Desa Rampasasa, Kecamatan Rahong, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2003. (P. Brown et al., Nature 431, 1055, 2004) Kerangka LB1 cukup lengkap, termasuk tengkorak seorang perempuan berusia 30 tahun (Brown, et al., 2004; Jungers, et al., 2009:159–164), dengan ciri otak sangat kecil, kapasitas kranial 426 cc (Kubo e al., 2013), tingginya hanya sekitar 106 cm (3 kaki 6 inci), dan beratnya sekitar 30-40 kg (66-86 lbs).

Sedangkan D. Falk et al (2005) dan P. Brown et al (2004) memperkirakan kapasitas kranial LB1 sekitar 380-400 cc. Hingga tahun 2006, Robert D. Martin, PhD, termasuk ahli primatologi terkemuka pada Field Museum di Chicago, Amerika Serikat. Ia bekerjasama dengan 5 ahli lain khusus meneliti otak LB1, Homo floresiensis.

Ke-5 ahli itu ialah Profesor Anneke MacLarnon, MA, PhD dari School of Human and Life Sciences, Roehampton University (London, Inggris) dan profesor antropologi evolusi di Hatfield College, Durham University, Inggris; James L. Phillips, PhD, adalah Adjunct Curator of Anthropology pada The Field Museum (Chicago, Inggris) dan profesor antropologi pada University of Illinois di Chicago, Amerika Serikat; P. R. Williams, PhD, dan L. Dussubieux, PhD berasal dari Field Museum (Chicago, Amerika Serikat); dan Dr. W.B. Dobyns, PhD berasal dari Department of Human Genetics, University of Chicago dan profesor pediatrik di University of Minnesota, Amerika Serikat.

Robert D. Martin, PhD (lahir 1942), antropolog-biolog asal keturunan Inggris, kini menjadi Emeritus Curator pada The Field Museum of Natural History di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Ia juga adjunct professor pada University of Chicago, Northwestern University, dan University of Illinois Chicago di Amerika Serikat.

Robert D. Martin, PhD, memiliki pengalaman riset antropologi, biologi evolusi, dan biologi reproduksi. (R.D. Martin, 2013) Sedangkan Dr. MacLarnon adalah ahli perubahan ukuran sistem syaraf pusat. Dr. Dobyns adalah ahli genetik sistem syaraf manusia.

Dussubieux, PhD dan Williams, PhD, adalah analis sampel-sampel tengkorak pada Field Museum di Chicago, Amerika Serikat. Robert D. Martin, PhD, dkk (2006) menolak dugaan D. Falk et al. (2005) yang dirilis oleh jurnal Science tahun 2005, bahwa hasil analisis endocast otak H. floresiensis menyiratkan mungkin H. floresiensis termasuk Homo erectus kate. “The tiny cranial capacity of LB1 cannot be attributed to intraspecific dwarfism in H. Erectus,” tulis Robert D. Martin, et al. (2006).

Jadi, H. floresiensis (Manusia Flores) bukan H. erectus kate. Alasannya, pengurangan ukuran tubuh mamalia lazimnya berkaitan dengan pengurangan sangat moderat dari ukuran otaknya.

Robert D. Martin dkk (2006) menambahkan bahwa kapasitas kranial LB1 (H. floresiensis) masih berada dalam kisaran normal jenis simpanse dan lebih kecil dari hominid lain, kecuali dua individu Australopithecus afarensis sekitar 3-3,5 juta tahun silam. Lagi pula, kapasitas kranial kecil LB1 bukanlah “pengurangan normal”.

“The tiny cranial capacity of LB1, which is smaller than in any other known hominid younger than 3.0 million years old, is demonstrably far too small to have been derived from Homo erectus by normal dwarfing,” ungkap Robert D. Martin, PhD. (Field Museum, 18/5/2006) H. erectus atau ‘Manusia berjalan tegak’ selama ini disebut-sebut sebagai leluhur cukup tua atau lebih purba dari manusia yang hidup kira-kira 1,8 juta-2 juta tahun silam era Pleistosen di sepanjang zona Afrika, Eropa-Asia dan Peninsula Iberia hingga Pulau Jawa di Kepulauan Nusantara. (Andy I. R. Herries et al, 2020; R. Klein, 1999; Bernard Wood, 2011; K.K. Ho, 2016).

Robert D. Martin, PhD dkk (2006) menduga H. floresiensis (LB1) mungkin manusia modern mikrosefalus. Bagaimana sejumlah ahli terperangkap pada dugaan semacam ini? Karena hanya merujuk satu asumsi: “Body size can shrink considerably, but brain size always shrinks moderately.” Atau ukuran fisik dapat merosot tajam, sedangkan otak tidak (hanya moderat atau sedang) dalam evolusi fisik manusia atau mamalia.

Ukuran otak LB1 (H. floresiensis) seolah-olah berada di luar pakem umum evolusi otak mamalia selama ini. Misalnya, Robert D. Martin, PhD, membuat grafik kapasitas tengkorak dalam ukuran sentimeter kubik 118 fosil hominid rentang waktu 3,5 juta tahun. Hasilnya, pola ukuran dan perkembangan otak LB1 (Homo floresiensis) seolah-olah berada ‘di luar grafik umum’ evolusi.

Akibatnya, beberapa ahli menduga LB1 adalah manusia modern mikrosefalus-patologis. Asal-usul dan pola hubungan evolusi Manusia Flores (Homo floresiensis/LB1) dengan manusia modern masih misteri hingga hari ini.

Hasil riset kolaborasi 15 ahli dari berbagai negara dirilis oleh jurnal ilmiah Science edisi 3 Agustus 2018. Ahli peneliti Homo floresiensis itu antara lain Serena Tucci, PhD, asal Department of Ecology and Evolutionary Biology, Princeton University, Princeton dan Lewis-Sigler Institute,Princeton University, Princeton, New Jersey di Amerika Serikat, serta Department of Life Sciences and Biotechnologies, University of Ferrara, Ferrara, di Italia.

“Flores Island, Indonesia, was inhabited by the small-bodied hominin species Homo floresiensis, which has an unknown evolutionary relationship to modern humans…The history of hominin presence on Flores Island is particularly enigmatic,” tulis Serena Tucci, et al. (2018).

Sedangkan hasil analisa dan riset komprehensif tulang-tulang Homo floresiensis dari ahli asal Australian National University (ANU) tahun 2017 menyimpulkan bahwa Homo floresiensis kira-kira hidup 1,75 juta tahun silam atau lebih tua dari Homo erectus.

“The analyses show that on the family
tree, Homo floresiensis was likely a sister species of Homo habilis. It means these two shared a common ancestor. We looked at whether Homo floresiensis could be descended from Homo erectus. We found that if you try and link them on the family tree, you get a very unsupported result. All the tests say it doesn’t fit-it’s just not a viable theory,” papar Dr. Debbie Argue asal ANU
School of Archaeology and Anthropology (Australia), yang terlibat dalam riset Homo floresiensis itu. (The Mirror, 21/4/2017).

Dengan metode analisis-filogenetik (phylogenetic analyses), Argue et al. (2017:107-133) meneliti 133 titik-spesimen pada tengkorak, gigi, dan pasca-kranial Homo floresiensis. Riset dan kajian Argue et al. (2017) itu menyimpulkan bahwa Homo floresiensis berasal dari nenek-moyang sama (mungkin australopithecine) dengan Homo habilis asal Afrika; Homo floresiensis adalah ‘sister taxon‘ (takson saudara) Homo habilis yang lebih tua dan purba dari Homo erectus.

Tidak ada data mendukung teori Homo floresiensis berasal-usul dari Homo erectus. Sebab usia Homo floresiensis lebih tua (1,75 juta tahun) daripada Homo erectus. “Logically, it would be hard to understand how you could have that regression-why would the jaw of Homo erectus evolve back to the primitive condition we see in Homo floresiensis? If this was the case Homo floresiensis would have evolved before the earliest Homo habilis, which would make it very archaic indeed,” papar Dr. Argue tentang hasil riset ahli ANU asal Australia itu. (The Mirror, 2017).

Apakah Manusia Flores (Homo floresiensis) sesungguhnya ‘early Homo’? Ini misteri sains awal abad 21. ***

*Penulis adalah Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.