Manusia Flores Dari Liang Bua: Gigi & Rahang Paling Unik (5)

0

*Oleh: Servas Pandur

Kolaborasi ahli asal 3 negara (Jepang, Australia, dan Republik Indonesia) merilis hasil riset dan kajian sisa-sisa gigi dan rahang bawah Homo floresiensis (Manusia Flores) pada jurnal Anthropological Science edisi Mei 2015. “The H. floresiensis teeth exhibit a mosaic of primitive, derived, and unique characters…,” tulis Kaifu et al. (2015:129).

Fosil gigi Homo floresiensis memiliki
ciri-ciri unik dan purba. Fosil gigi Homo floresiensis (LB1) terdiri dari satu gigi rahang atas sebagian, dua gigi rahang bawah hampir lengkap, dan empat gigi terpisah. Semua fosil gigi itu digali tahun 2002-2004 di Liang Bua, Kec. Rahong, Kab. Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (Morwood and Jungers, 2009) Bentuk atau morfologi
gigi Homo floresiensis dipaparkan rinci dan lengkap oleh Kaifu et al. (2015).

Maka gugur pula teori sejumlah ahli, misalnya Profesor Dr. Teuku Jacob et al. (2006) menyebut, bahwa sisa-sisa Homo floresiensis di situs Liang Bua, Kab. Manggarai, NTT, berasal dari individu manusia modern kate.

Gigi dan rahang Homo floresiensis pernah dikaji oleh Brown dan Maeda (2009). Peter Brown dari jurusan Palaeoanthropologi, Faculty of Arts and Science, University of New England (Australia) dan koleganya Tomoko Maeda asal University of New England (Australia) membuat suatu perbandingan morfologi gigi dan rahang bawah (mandibula) LB1, LB2, dan LB6 Homo floresiensis.

Secara anatomis, mandibula lazimnya paling kuat dan besar dari tengkorak kepala manusia. LB1 adalah spesimen holotipe Homo floresiensis. (Brown, et al., 2004:1055-1061; Morwood, et al., 2005:1012-1017) Kerangka LB1 menunjukkan ciri orang dewasa dengan ukuran otak sangat kecil 426 cm2 (lain menyebut 380-400 cc) (Kubo e al., 2013), tingginya sekitar 106 cm (3’6″) (ahli lain menyebut 1,1 m atau 3 kaki 7 inci), dan beratnya 30-40 kg (66-86 lbs) termasuk spesies manusia arkhaik (purba) hidup di Kab. Manggarai, Flores, Provinsi NTT, Negara RI. (Brown, et al., 2004:1055-1061; Morwood, et al., 2005:1012-1017).

Tahun 2004, spesies baru Homo floresiensis diberi nama oleh Peter Brown et al. (2004), merujuk ke LB1 sebagai holotipe. Sebuah gigi, LB2, dirujuk ke spesies tersebut. (Brown, et al., 2004). Sedangkan LB1 adalah kerangka manusia yang cukup lengkap, termasuk tengkorak hampir lengkap. (Brown, et al., 2004; Jungers, et al., 2009: 159–164). Hasil penggalian di situs Liang Bua, Kab. Manggarai, Flores, tahun 2005 menemukan pula tulang manusia lainnya (LB6).

Penggalian arkeologis di situs Liang Bua saat itu dipimpin oleh Mike Morwood asal University of Wolonggong (Australia) dan Raden Soejono asal Arkeologi Nasional RI; sedangkan arahan riset lab dan lapangan dipimpin oleh Thomas Sutikna, yang bekerjasama dengan Jatmiko, E. Wahyu Saptomo, dan Rokus Awe Due.

Brown dan Maeda (2009) mengurai foto asli-dokumenter mandibula LB6 dari Dr. Harry Wideanto dan Thomas Sutikna. Kedua ahli paleoantropologi itu mengakses koleksi tengkorak primata manusia dan non-manusia, antara lain melalui Chris Stringer, Rob Kruszynski, Paula Jenkins dan Daphne Hills (Natural History Museum, London); Wim Wendelen, Royal Museum of Central Africa (Tervuren); Rosine Orban (Royal Belgian Institute of the Natural Sciences, Brussels); Tomo Takano (Japan Monkey Centre, Inuyama); Hideki Endo (Primate Research Institute, Inuyama); Malcolm Harman (Powell Cotton Museum, Birchington); Hisao Baba, Yuji Mizoguchi, dan Yoseki Kaifu (National Science Museum, Tokyo).

Brown dan Maeda (2009) juga mangakses koleksi tengkorak melalui Yukio Dodo (Tohoku University Medical School); Hisashi Suzuki dan Gen Suwa (Tokyo University); Han Kanxin (Institute for Archeology, Beijing); Wu Rukang, Wu Xinzhi, dan Dong Xingren (IVPP, Beijing); John de Vos (National Museum of Natural History, Leiden); Jens Franzen (Senckenberg Museum, Frankfurt); Nina Jablonski (Dental School, University of Hong Kong); V.D. Misra dan Jaganath Pal (Department of Archaeology, University of Allahabad).

Akses koleksi tengkorak lain dari riset Brown dan Maeda (2009) melalui Mammal Department, American Museum of Natural History (New York); Hidemi Ishida (Department of Anthropology, Kyoto University); Hirafumi Matsumura (Sapporo University Medical School).

Dana riset Brown dan Maeda (2009) berasal dari Australian Research Council, Tohoku University Medical School, and the University of New England.

Brown et al (2009) membuat perbandingan gigi dan rahang bawah Homo floresiensis dengan gigi dan rahang bawah milik lebih dari 2000 manusia modern dan hominin purba. Brown dan Maeda (2009) juga mengambil data kerangka Dmanisi berusia 1,8 juta tahun dari Republik Georgia, yang diduga berasal dari spesies peralihan antara Homo habilis dan Homo erectus atau kerabat dekatnya Homo ergaster.

Brown dan Maeda (2009) meneliti sekitar 40 karakteristik, misalnya ketebalan email gigi, diukur milimeter, bentuk mahkota gigi dan akarnya, dan bagian diagnostik dagu. Kedua tulang rahang Homo floresiensis memiliki ciri sama dengan Australopithecus dan Homo awal (early Homo) dan lebih dekat dengan kerangka Dmanisi asal Afrika.

Kesimpulan riset Brown dan Maeda (2009:571), khususnya analisa stratistik karakter gigi dan rahang bawah Homo floresiensis dari situs Liang Bua, Kab. Manggarai, Flores, menyatakan : “Here we describe the morphology of the LB1, LB2, and LB6 mandibles and mandibular teeth from Liang Bua.

Morphological and metrical comparisons of the mandibles demonstrate that they share a distinctive suite of traits that place them outside both the H. sapiens and H. erectus ranges of variation.”

Jadi, ciri rahang-bawah dan gigi-bawah Homo floresiensis sangat berbeda dengan rahang-bawah dan gigi-bawah Homo sapiens, Homo erectus dan manusia modern mikrosefalik.

Brown dan Maeda (2009:593) juga menulis : “Comparison with Dmanisi H. erectus suggests that the Liang Bua hominin lineage left Africa before 1.8 Ma, and possibly before the evolution of the genus Homo.We believe that these distinctive, tool making, small-brained, australopithecine-like, obligate bipeds moved from the Asian mainland through the Lesser Sunda Islands to Flores, before the arrival of H. erectus and H. sapiens in the region. They apparently survived in isolation until the end of the Pleistocene.”

Berdasarkan ciri khas gigi dan rahang bawah, alat-budaya, otak kecil LB1, Brown dan Maeda (2009:593) menduga nenek-moyang Homo floresiensis kira-kira 3,8-2,9 juta tahun silam telah meninggalkan Afrika menuju Asia dan Flores, sebelum evolusi dan kedatangan Homo erectus dan Homo sapiens di wilayah ini.

Hasil riset kedua ahli itu dirilis oleh jurnal Human Evolution edisi Juni 2009. Hingga saat ini, kerangka Dmanisi dianggap mewakili spesies hominin pertama asal Afrika.

Ahli-ahli lain mendukung kesimpulan Brown dan Maeda (2009), bahwa bukti mandibular Homo floresiensis menunjukkan spesies baru atau berbeda, bukan manusia modern mikrosefalus, bukan Homo erectus, dan bukan pula Homo sapiens. Misalnya, Westway et al. (2015) merilis riset mandibular Homo floresiensis dalam edisi jurnal PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) edisi Februari 2015 : “Manibular evidence supports Homo floresiensis as a distinct species”.

Michael Carrington Westay berasal dari Environmental Futures Research Institute, Griffith University (Australia). Westway bekerjasama-riset dengan Arthur C. Durband asal Anthropology Department, Texas Tech University, Lubbock (Amerika Serikat), Colin P. Groves asal School of Archaeology and Anthropology, Australian National University (Australia), dan Mark Collard asal Department of Archaeology, Simon Fraser University, Vancouver, (Canada) dan School of Geosciences, University of Aberdeen (Inggris).

Hasil riset Kaifu dkk (2015) terhadap gigi dan rahang bawah Homo floresiensis menyajikan ciri-ciri rinci morfologi gigi Homo floresiensis yang digali tahun 2002-2004 di situs Liang Bua, Kab. Manggarai, Flores, NTT. Riset tim Kaifu dkk (2015) berdasarkan spesimen orisinal (asli)-yang belum diriset ahli lain sebelumnya-dengan scan Micro-CT resolusi tinggi.

Yousuke Kaifu berasal dari Department of Anthropology, National of Museum Nature and Science di Amakubo, Ibaraki (Jepang); Kaifu bekerjasama riset dengan sejumlah ahli lain, misalnya Reiko T. Kono asal Department of Biological Sciences, The University of Tokyo (Jepang), Thomas Sutikna, E. Wahyu Saptomo, Rokus Due Awe, dan Jatmiko asal University of Wollongong (Australia) dan Hisao Baba asal Department of Anthropology, National of Museum Nature and Science di Amakubo, Ibaraki (Jepang).

Hasil riset Kaifu dkk (2015) menolak dugaan Prof. Dr. Teuku Jacob et al (2006), bahwa sisa kerangka LB1 berasal dari manusia modern; Kaifu dkk (2015) juga menolak dugaan (Brown et al.,2004; Brown and Maeda, 2009), bahwa gigi dan rahang bawah Homo floresiensis menunjukkan garis evolusi dengan Homo habilis atau Australopithecus.

Seperti halnya unsur-unsur tengkorak Homo floresiensis yang sangat unik (Brown et al.,2004; Morwood et al., 2005; Larson et al., 2009; Brown and Maeda, 2009; Jungers et al., 2009b; Kaifu et al., 2011), gigi Homo floresiensis juga menujukkan mosaik dari primitif, evolusi, dan ciri unik.“ …the teeth of H. floresiensis exhibit an impressive mosaic of primitive, derived, and unique characters,” tulis Kaifu et al. (2015: 142).

Lebih rinci Kaifu et al (2005:142) mengurai mosaik ciri unik gigi Homo floresiensis : “H. floresiensis is primitive compared to H. sapiens in having a MD elongated P3 crown. Other possibly archaic features of H. floresiensis mentioned in the present paper include a prominent canine lingual median ridge, thickening of the buccal cervical enamel on C1 and P3, a robust anterior tooth root, a relatively complex and robust premolar root morphology, and a squarish maxillary dental arcade. H.
floresiensis is derived relative to H. habilis s.l. in having a distally located P3 lingual cusp, comparatively wider mandibular dental arcade, four-cusped mandibular molars, posteriorly decreasing molar size sequence, and a small tooth size.” Jadi, karakter gigi Homo floresiensis (Manusia Flores) memiliki sisi atau unsur primitif, modern, dan unik.

Ciri unik gigi Homo floresiensis antara lain melahirkan ilham bagi Rebecca Rogers Ackermann dan Lauren Schroeder (2020) bahwa evolusi manusia kira-kira 6 (enam) juta tahun terakhir mungkin bukan linier. Ackermann et al (2020) menulis : “… the coexistence of multiple taxa at different points in time, and re-evolution of small brains in multiple contecxts, challenge a linear notion of the emergence of Homo-like morphology. For example, in 2003 and 2004, several hominin fossil specimens were recovered from the Liang Bua cave on the island of Flores, Indonesia.”

Lebih rinci Ackermann et al. (2020) mengurai keunikan morfologi Homo floresiensis : “ Most (but not all) researches agree that these specimens are representative of a new hominin species named Homo floresiensis. Despite their recent age of ~100,000 – 60,000 years ago, these individuals
are small-brained (417 cm3) and small-bodied. They also overlap temporally with the appearance of modern Homo sapiens in the broader region, while at the same time displaying a number of ancestral traits indicative of early Homo.”

Profesor Rebecca Rogers Ackermann adalah ahli biologi-antropologi pada Department of Archaeology, dan Deputy Dean of Transformation pada Faculty of Science, University of Cape Town (UCT). Ackermann adalah direktur dan pendiri Human Evolution Research Institute pada UCT.

Sedangkan lauren Schroeder adalah ahli palaeoantropologi dan Assistant Professor pada University of Toronto Mississauga. Schroeder khusus ahli dan peneliti keragaman manibular dan kranial manusia atau hominin dengan paduan metode kuantitatif, misalnya analisa statistik model 3D.

Artikel kedua ahli ini termasuk naskah akademik tentang teologi dan antropologi evolusi pada buku Theology and Evolutionary Anthropology (2020).

Homo floresiensis masih termasuk misteri sains awal abad 21. Dengan mengutip Kubo et al. (2013), Yousuke Kaifu (2017:S425) menulis : “The endocranial volume is at the level of Australopithecus but is comparable to that of Homo habilis when scaled to body size.” Berikutnya, Kaifu (2017) menduga bahwa leluhur Homo floresiensis berasal dari Homo erectus Jawa : “…the ancestor of H. floresiensis was most likely early Javanese H. erectus or its related form. Because H.
floresiensis lacks a series of cranial features unique to late Javanese H. erectus from Sambungmacan and Ngandong, it is clear that the former evolved in isolation in the insular setting.”

Kaifu (2017) terperangkap pada dugaan bahwa Flores dan sekitarnya adalah zona terakhir dari hunian manusia. Sehingga muncul dugaan, Homo floresiensis datang dari luar Flores khususnya Asia dan Jawa. Mengapa bukan meneliti dugaan sebaliknya, Manusia Flores adalah link (asal-usul)
manusia awal (early Homo)? Misalnya, tahun 2015, Ian Tattersall (2015:194) berpandangan bahwa spesies LB1 salah diklasifikasi sebagai Homo floresiensis; sebab spesies LB1 sebetulnya jauh lebih awal atau lebih purba (archaic), sehingga sulit dimasukkan ke dalam genus Homo.

*Penulis adalah Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.