Kontraktor Proyek Jalan Noa-Golo Welu Tak Terima Dituding Kerja Asal Jadi

0

LABUAN BAJO– Owner PT Gunung Sari Indah Heri Trisno selaku kontraktor yang mengerjakan ruas jalan Propinsi Noa-Golo Welu tidak menerima tudingan pekerjaannya asal jadi atas kerusakan jalan tersebut. Sebab kata Heri, proyek jalan itu masih dalam masa pelaksanaan kontrak.

“Ada hal yang mau saya klarifikasi mengenai pekerjaan itu. Dalam berita itu ada poin tidak mengerjakan dengan baik. Tapi saya mau klarifikasi bahwa di atas itu masih masa pelaksanaan,” ujar Heri kepada Infolabuanbajo.com melalui sambungan ponselnya.

Meski demikian Heri mengakui terjadi kerusakan beberapa titik di jalan hotmix yang baru diaspal tersebut. Heri mengklaim kerusakan tersebut murni karena bencana alam.

“Kasat mata orang melihat pekerjaan itu banyak rusak. Tidak salah dan kita akui. Memang kita ini bekerja di atas ruas yang menurut kami strukturnya itu sebenarnya tidak bisa begitu penanganannya. Karena ruas Noa-Golo Welu ini kan terkenal dengan ruas yang sering bencana,” katanya.

“Mengenai aspal rusak, betul karena memang kadar air melebihi optimum. Karena memang kadar hujan terlalu tinggi. Kadar air di dalam sub grade terlalu tinggi. Dia amblas terus dan tidak mencapai titik padat,” tambahnya.

Menurut Heri, titik kerusakan aspal yang telah dikerjakan itu di lokasi jembatan alam. Heri mengatakan, lokasi tersebut kadar air dalam tanahnya sangat tinggi sehingga aspal cepat rusak.

“Ada beberapa titik yang rawan rusak. Contoh yang saya lihat di foto itu di jembatan alam. Orang bilang di jembatan alam. Memang di situ agregatnya selalu spon. Artinya sub gradenya tidak mau padat. Dia selalu model kaya spon. Karena kadar air melebihi optimum,” jelasnya.

Heri pun berjanji akan segera memperbaiki jalan yang rusak tersebut. Heri target akan rampung perbaikan dalam bulan April ini. Apalagi kata Heri, pekerjaan tersebut belum masuk tahap Provisional Hand Over (PHO).

“Kita rencana dalam bulan ini. Karena kita menunggu kering di Noa-Golo Welu. Kita mau kerjakan. Karena total hotmix 16 Km. Yang baru selesai 10 KM. 6 KM belom. Kita baru sampai di agregatnya. Yang agregat juga tidak bisa paksa hotmix. Karena posisi kadar air terlalu optimum,” jelasnya.

“Kami berharap sudah satu minggu berjalan, ini cuacanya bagus dan kita hanya tunggu airnya berkurang. Kita mau coba pemadatan ulang. Kalau memang pemadatannya sudah masuk, di situ kita harus segera hotmix. Termasuk yang rusak-rusak kami hotmix ulang,” katanya.

Heri membantah tebal hotmix tersebut tidak sesuai spek yang telah ditentukan. Heri memastikan jenis aspal yang kerjakan itu laston 3 atau hot roller sheet (HRS).

“Tebal hotmix untuk APBD 1 ini, dia minta padatnya itu 3,5 cm dan lebarnya 4,5 cm. Itu speknya dari APBD 1 mintanya begitu. Kalau kita di atas hanya HRS,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membangun jalan provinsi di kabupaten Manggarai Barat tahun 2021. Ruas jalan yang dibangun tersebut yakni Simpang Noa- Golowelu 2 kilometer dan Hita-Simpang Tiga Kedindi 12,5 kilometer.

Dua ruas jalan dengan konstruksi Lapis Tipis Beton Aspal (Lataston) atau Hot Rolled Sheet (HRS) itu menghabiskan anggaran Rp45 miliar lebih. Namun fakta di lapangan berkata lain. Pasalnya, ruas jalan yang baru dikerjakan sebulan itu sudah terlihat rusak parah.

Meski ruas jalan tersebut merupakan kewenangan propinsi, namun Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat (Mabar) Marsel Jeramun terusik. Marsel membenarkan bahwa jalan yang baru berusia sebulan itu sudah rusak dan penuh lumpur.

Marsel mengapresiasi kepada Gubernur NTT Viktor B Laiskodat (VBL) dan DPRD Propinsi NTT yang telah membangun jalan tersebut. Kata Marsel, kepemimpinan VBL telah membuat gebrakan dengan fokus membangun infrastruktur jalan raya dengan luas yang begitu panjang.

Namun apresiasi Marsel berbalut kecewa. Pasalnya Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai terjadi penyimpangan dalam membangun jalan tersebut.

“Ketika jalan ini pun usai dibangun, kami sedikit kecewa. Kecewa karena menurut saya ada penyimpangan yang dilakukan oleh pihak ketiga dalam hal ini adalah kontraktor,” kata Marsel kepada Infolabuanbajo.com.

Menurut Marsel, mimpi Gubernur NTT telah gagal melihat hasil kinerja kontraktor tersebut. “Untuk merealisasikan mimpi Gubernur dalam menyelesaikan jalan propinsi yang sudah bertahun-tahun rusak parah akhirnya gagal. Pihak ketiga ini, berkesan-nya tidak tanggungjawab,” tegasnya.

“Sudah dikasih kepercayaan untuk menuntaskan pekerjaan, akan tetapi gagal dalam pelaksanaannya. Hal ini terbukti dari bukti fisik sepanjang jalan sudah rusak, aspal sudah terkelupas,” tambahnya.

Sejatinya kata Marsel, pengalihan program lapen ke HRS seharusnya umur lebih panjang. “Ini kok belum sebulan tapi sudah rusak parah, aspal sudah terkelupas,” tegasnya.

Marsel pun mendorong DPRD Propinsi untuk komunikasi dengan DPRD Manggarai Barat terkait pekerjaan jalan yang diduga asal-asalan itu. Marsel juga mendorong supaya evaluasi total terhadap kontraktor yang mengerjakan jalan itu.

“Mengevalusi yang langkahnya itu bisa memberikan efek jera pihak kontraktor atau pihak ketiga yang melakukan pekerjaan asal-asalan atau lebih mengutamakan keuntungan tapi mengabaikan kualitas. Inikan merugikan masyarakat banyak yang menikmati jalan,” katanya.

Marsel menegaskan, pihaknya berteriak atas kerusakan tersebut supaya DPRD Propinsi segera melakukan pengawasan secara ketat.

“Tidak cukup kalau hanya sekedar mem-PHK-kan pihak ketiga yang melakukan pekerjaan ini. Semestinya harus ada upaya yang lebih supaya ada efek jera. Sehingga pada kontraktor yang mengerjakan jalan propinsi atau jalan apapun nanti pasti ke depannya tidak akan kerja asal jadi. Tapi kalau di biarkan, menurut saya ini tidak betul,” tegasnya.

Apalagi kata Marsel, kontraktor tersebut mempunyai catatan buruk. Berdasarkan laporan masyarakat dikatakan Marsel, kontraktor itu tidak memberikan hak upah para pekerja. Hal tersebut terlihat dari keluhan para pekerja.

“Apalagi jalur Lando Noa itu, jalur yang sudah punya korban. Mantan Kadis PU Manggarai Barat kemudian kemudian pernah bermasalah secara hukum bahkan dipidanakan karena mengerjakan secara asal-asalan di ruas itu. Tiba-tiba sekarang juga orang lain melakukan yang sama. Kontraktor itu harus diprosez juga, siapa pun dia,” jelasnya.

“Bayangkan yang rusak itu hampir sepanjang jalan. Kalau dipersentasikan ruas yang rusak itu bisa masuk 85%. Sepanjang jalan itu bahkan aspal terbongkar. Ada juga sepanjang beberapa meter, ada aspal yang sudah terbongkar dan hanya tinggal batu agregat,” tambahnya.

HS, sala seorang warga asal Golo Welu meminta DPRD Propinsi segera memantau langsung jalan tersebut. HS mendorong aparat penegak hukum harus memproses kontraktor nakal itu.

“Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kontraktor yang kerja asal jadi dan mengabaikan kualitas. Kami sebagai masyarakat yang rugi, baru belum sebulan tapi sudah rusak parah,” tukasnya. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.