Karyawan Pecatan PT Nanga Labang Diminta Lapor Langsung ke Dinas Nakertrans Matim

0 0

BORONG– Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kabupaten Manggarai Timur (Matim) Afridus Jahang berjanji akan menindak tegas pemilik SPBU PT. Nanga Labang Borong.

Menurut Afridus, pemotongan gaji Rp90 ribu untuk pembayaran BPJS Kesehatan dari gaji pokok karyawan sangat tidak dibenarkan. Setiap pekerja kata Afridus, jaminan kesehatannya empat persen dari perusahaan dan satu persen ditanggung karyawan.

“Sehingga soal uang biaya BPJS di potong Rp90 ribu perbulannya dari karyawan itu salah. Itu melanggar aturan. Nanti kita akan tindak tegas itu,” ujar Afridus kepada Infolabuanbajo.com, Jumat (18/6/2021).

Sementara surat perjanjian kontrak kerja kata Afridus, tak boleh hanya dipegang pihak perusahan. Karyawan juga berhak memegang surat perjanjian tersebut.

“Kalau hanya dipegang oleh perusahan saja. Itu sebenarnya tidak bisa,” tegasnya.

Afridus pun meminta keempat karyawan yang dipecat PT Nanga Labang tersebut untuk melaporkan kasus tersebut secara resmi ke dinas yang dipimpinnya.

“Kita akan diskusikan sama-sama soal kesejahteraan upah. Kita siap untuk layani mereka. Kalau soal upah tadi itu, nanti kita akan liat itu surat kontrak kerjanya. Pada intinya kalo ada yang tidak beres kita siap tindak tegas itu,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Manajemen SPBU yang berlokasi di Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) memecat empat karyawannya diduga secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Keempat karyawan tersebut berinisial YWM (24), Rosalia Jelatu (47) dan Siti Nuralwi (22). Salah satunya tak mau namanya dimediakan.

YWM ( 24) mengaku, dirinya dipecat dengan alasan posisinya yang ditempatkan di SPBU tersebut sebagai admin tak dibutuhkan lagi. Ia mengaku dipecat pada 1 Mei 2021.

“Sebelum dikeluarkan, saya diarahkan untuk bekerja di gudang milik Toko Kasih Sayang Borong. Karena saya tak indahkan yang menurut saya saat itu pekerjaan di gudang pribadi toko kasih sayang Borong tidak ada kaitannya dengan pekerjaaan saya sebelumnya. Akhirnya saya dikeluarkan tanpa diberikan surat pemecatan sepotong pun,” ujar YWM kepada Infolabuanbajo.com, Kamis (17/6/2021).

Padahal kata YWM, dirinya bekerja di SPBU tersebut sudah berjalan 3 tahun. Bahkan sebelum dikeluarkan tanpa diberikan surat peringatan (SP). “Kami keluar tanpa di beri uang pesangon,” katanya.

Pengakuan yang sama juga disampaikan oleh Rosalia Jelatu (47). Rosalia mengaku dipecat saat masih aktifitas bekerja di SPBU tersebut.

“Saya dipecat langsung tanpa diberi surat sepotong pun. Bagi saya, kami diperlakukan secara keji oleh PT. Nanga Labang Borong. Bayangkan, saya dipecat secara lisan oleh Marselina Yuni Yanti, anaknya Direktur PT. Nanga Labang Borong,” kisahnya.

“Saya dipecat saat masih pakai seragam lengkap dan lagi sibuk mengisi BBM ke kendaran. Tiba-tiba seketika Ibu Marselina langsung menghampiri saya dengan nada kasar dan seketika itupun ia langsung memecat saya. Seusai dipecat, dia langsung menyuruh saya untuk segera pulang,” tambahnya.

Sementara Siti Nuralwi (22) mengaku diberi surat pemecatan. Namun isi surat tersebut tanpa ada alasan yang jelas. Inti isi surat tersebut menyuruh berhenti bekerja.

“Padahal saya sebelumnya tidak pernah diberi surat peringatan. Seperti aturan di perusahaan pada umumnya. Saya di pecat tanpa alasan, padahal saya mengabdi kerja sudah 2 tahun,” katanya.

Uang jaminan selama bekerja kata Siti setiap bulannya dipotong Rp90 ribu. “Selama 2 tahun saya bekerja, tiap bulanya gaji saya dipotong Rp90 ribu,” jelasnya.

Para pegawai tersebut pun meminta Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Manggarai Timur mengambil sikap tegas atas peristiwa yang menimpa mereka.

“Kami mendorong kepada pihak kepolisian agar segera lakukan penggeledahan ataupun sidak serentak kepada SPBU tersebut. Bila menemukan dugaan mafia BBM subsidi maka segera ambil sikap tegas sesuai aturan hukum,” kata mereka.

Mafia Minyak Subsidi

Pengakuan mengejutkan datang dari seorang karyawan yang juga turut dipecat bersama tiga teman lainnya. Menurutnya, SPBU tersebut sering bermain mafia minyak berjenis bensin subsidi dan solar.

“Praktik mafia BBM subsidi biasanya di jual kembali kepala calo yang nantinya sasaran edaran BBM tersebut kadang sampai di bawa keluar kabupaten, seperti ke Ngada dan Manggarai. Di sana sering bermain curang. Solar PSO (subsidi) mereka tuangkan ke tangki pendam solar NPSO (Nonsubsidi),” katanya sembari meminta namanya tak dipublikasikan di media.

“Transaksi mafia BBM biasanya terjadi saat pagi pukul 10.00 WITA. Saat aktiftas kendaran masih sepi dan saat malam hari,” tambahnya.

Adrianus Andi Cieming selaku Direktur SPBU mengklaim, pihaknya memecat keempat karyawan tersebut sudah sesuai standar prosedur (SOP). “Saya pecat sudah sesuai standar. Saya sudah berikan peringatan,” katanya kepada Infolabuanbajo.com, Kamis (17/6/2021).

Saat ditanya standar gaji karyawan di SPBU tersebut, Andi enggan berkomentar. “Maaf pak kalau soal itu, mungkin bisa tanya ke Manager ya. Saya tidak tahu,” jawabnya.

Sedangkan Marselina Yunianti tak membantah dirinya memecat secara lisan karyawan SPBU tersebut. Ia pun mengaku bahwa dirinya anak pemilik SPBU itu.

“Iya, saya anaknya PT. Nanga Labang Borong. Memangnya kenapa kalau dipecat? Ada apa?. Saya tidak mau tahu mereka dan siapa-siapa namanya,” tanya Marselina saat Infolabuanbajom.com konfirmasi terkait pemecatan sepihak tersebut. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.