Kadis Koperindag Matim Pilih Diam Ditanya Soal Jual Beli Illegal Ruko Pemda

0

BORONG-Kepala Dinas Koperasi UKM Industri dan Perdagangan (Koperindag) Manggarai Timur (Matim) Fransiskus P Sinta enggan menanggapi konfirmasi infolabuanbajo.com terkait dugaan penjualan rumah toko (ruko) secara illegal milik Pemerintah Daerah (Pemda) Matim di Pasar Borong.

Infolabuanbajo.com berusaha menghubungi Fransiskus melalui pesan WhatsApp pada pukul 00.10 WIB, Selasa (20/4/2021), namun enggan menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada yang bersangkutan.

Fransiskus hanya membaca pertanyaan konfirmasi terlihat dari centang biru laporan WhatsApp. Dilansir dari faq.whatsapp.com mengenai tanda laporan baca, dalam website tersebut dijelaskan bahwa tanda centang di whatsapp terdapat tiga jenis.

Apabila ceklis satu tidak berwarna artinya pesan berhasil dikirim, ceklis dua tidak berwarna artinya pesan berhasil disampaikan ke telepon penerima pesan dan dua centang biru yang berarti penerima telah membaca pesan anda. Dalam konfirmasi infolabuanbajo.com ke nomor yang bersangkutan terlihat centang dua biru. Artinya telah dibaca, namun diabaikan.

Sebelumnya diberitakan, praktik jual beli rumah toko (Ruko) milik Pemerintah Daerah (Pemda) Manggarai Timur (Matim) benar terjadi. Meski sebelumnya Kepala Dinas Koperasi UKM Industri dan Perdaganagan (Koperindag) Matim Fransiskus P Sinta mengaku tidak adanya praktik mafia penjualan ruko di Pasar Borong tersebut.

Namun ada pengakuan mengejutkan dari beberapa pedagang yang berjualan di Ruko Pemda tersebut. Pengakuan para pedagang itu dengan sendirinya membantah pernyataan Kadis Koperindag Matim.

Salah satu pedagang yang enggan menyebutkan namanya kepada Infolabuanbajo.com mengaku membayar tempat tersebut kepada Pemda Rp1,6 juta pertahun.

Menurutnya, ruko yang ditempatinya berukuran 2×2 meter. Artinya panjang dan lebar ruangan ruko tersebut berukuran 4 meter. Menurut Kadis Fransiskus sebelumnya menyebutkan harga permeter persegi perbulan Rp10 ribu.

Dengan demikian harga sewa ruko tersebut Rp40 ribu per bulan. Kalau hitungan setahun penyewa membayar Rp480 ribu. Terkait hal ini, ada kelebihan pembayaran dari penyewa kepada Pemda Matim yakni Rp1.120.000. Namun dia pastikan sewa ruko tersebut berbeda-beda setiap penyewa.

Selanjutnya seorang ibu yang juga enggan menyebutkan namanya mengaku dirinya menyewa ruko tersebut Rp4 juta ke Pemda Matim setiap tahun.

Namun ibu itu menyewa dua ruko sekaligus. Satu ruko dipakai sendiri, sedangkan satu rukonya disewakan lagi kepada orang lain. Sebelum pandemi covid-19, dia menyewakan ruko tersebut ke penjual lain.

“Kebetulan saya punya ada dua. Satunya kita jualan sendiri. Sedangkan satunya pernah di kontrak orang , tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang kontrak,” katanya.

Ibu itu pun menawarkan salah satu ruko kepada Infolabuanbajo.com dengan harga jual Rp40 juta.

“Kalau mau beli itu yang di depan, saya jual Rp40 juta. Itu nanti kalian biar pakai sampai tujuh keturunan,” tawarnya.

Menurutnya, ruko yang dijualnya itu berukuran 4×4 meter. Ia pun meminta kontak infolabuanbajo.com supaya lanjut komunikasi membahas proses jual beli tersebut.

“Kita tukaran nomor ponsel saja. Nanti tinggal kita info saja. Kalau cocok harga, saya lepas Rp40 juta. Nanti kalau beli tinggal kamu lanjutkan bayar pajaknya,” tukasnya. (Tim Redaksi/Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.