DPRD Mabar Kecewa, Jalan Propinsi Simpang Noa Dikerjakan Asal Jadi

0

LABUAN BAJO– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membangun jalan provinsi di kabupaten Manggarai Barat tahun 2021. Ruas jalan yang dibangun tersebut yakni Simpang Noa- Golowelu 2 kilometer dan Hita-Simpang Tiga Kedindi 12,5 kilometer.

Dua ruas jalan dengan konstruksi Lapis Tipis Beton Aspal (Lataston) atau Hot Rolled Sheet (HRS) itu menghabiskan anggaran Rp45 miliar lebih. Namun fakta di lapangan berkata lain. Pasalnya, ruas jalan yang baru dikerjakan sebulan itu sudah terlihat rusak parah.

Meski ruas jalan tersebut merupakan kewenangan propinsi, namun Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat (Mabar) Marsel Jeramun terusik. Marsel membenarkan bahwa jalan yang baru berusia sebulan itu sudah rusak dan penuh lumpur.

Marsel mengapresiasi kepada Gubernur NTT Viktor B Laiskodat (VBL) dan DPRD Propinsi NTT yang telah membangun jalan tersebut. Kata Marsel, kepemimpinan VBL telah membuat gebrakan dengan fokus membangun infrastruktur jalan raya dengan luas yang begitu panjang.

Namun apresiasi Marsel berbalut kecewa. Pasalnya kata Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai terjadi penyimpangan dalam membangun jalan tersebut.

“Ketika jalan ini pun usai dibangun, kami sedikit kecewa. Kecewa karena menurut saya ada penyimpangan yang dilakukan oleh pihak ketiga dalam hal ini adalah kontraktor,” kata Marsel kepada Infolabuanbajo.com.

Menurut Marsel, mimpi Gubernur NTT telah gagal melihat hasil kinerja kontraktor tersebut. “Untuk merealisasikan mimpi Gubernur dalam menyelesaikan jalan propinsi yang sudah bertahun-tahun rusak parah akhirnya gagal. Pihak ketiga ini, berkesan-nya tidak tanggungjawab,” tegasnya.

“Sudah dikasih kepercayaan untuk menuntaskan pekerjaan, akan tetapi gagal dalam pelaksanaannya. Hal ini terbukti dari bukti fisik sepanjang jalan sudah rusak, aspal sudah terkelupas,” tambahnya.

Sejatinya kata Marsel, pengalihan program lapen ke HRS seharusnya umur lebih panjang. “Ini kok belum sebulan tapi sudah rusak parah, aspal sudah terkelupas,” tegasnya.

Marsel pun mendorong DPRD Propinsi untuk komunikasi dengan DPRD Manggarai Barat terkait pekerjaan jalan yang diduga asal-asalan itu. Marsel juga mendorong supaya evaluasi total terhadap kontraktor yang mengerjakan jalan itu.

“Mengevalusi yang langkahnya itu bisa memberikan efek jera pihak kontraktor atau pihak ketiga yang melakukan pekerjaan asal-asalan atau lebih mengutamakan keuntungan tapi mengabaikan kualitas. Inikan merugikan masyarakat banyak yang menikmati jalan,” katanya.

Marsel menegaskan, pihaknya berteriak atas kerusakan tersebut supaya DPRD Propinsi segera melakukan pengawasan secara ketat.

“Tidak cukup kalau hanya sekedar mem-PHK-kan pihak ketiga yang melakukan pekerjaan ini. Semestinya harus ada upaya yang lebih supaya ada efek jera. Sehingga pada kontraktor yang mengerjakan jalan propinsi atau jalan apapun nanti pasti ke depannya tidak akan kerja asal jadi. Tapi kalau di biarkan, menurut saya ini tidak betul,” tegasnya.

Apalagi kata Marsel, kontraktor tersebut mempunyai catatan buruk. Berdasarkan laporan masyarakat dikatakan Marsel, kontraktor itu tidak memberikan hak upah para pekerja. Hal tersebut terlihat dari keluhan para pekerja.

“Apalagi jalur Lando Noa itu, jalur yang sudah punya korban. Mantan Kadis PU Manggarai Barat kemudian kemudian pernah bermasalah secara hukum bahkan dipidanakan karena mengerjakan secara asal-asalan di ruas itu. Tiba-tiba sekarang juga orang lain melakukan yang sama. Kontraktor itu harus diprosez juga, siapa pun dia,” jelasnya.

“Bayangkan yang rusak itu hampir sepanjang jalan. Kalau dipersentasikan ruas yang rusak itu bisa masuk 85%. Sepanjang jalan itu bahkan aspal terbongkar. Ada juga sepanjang beberapa meter, ada aspal yang sudah terbongkar dan hanya tinggal batu agregat,” tambahnya.

HS, sala seorang warga asal Golo Welu meminta DPRD Propinsi segera memantau langsung jalan tersebut. HS mendorong aparat penegak hukum harus memproses kontraktor nakal itu.

“Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kontraktor yang kerja asal jadi dan mengabaikan kualitas. Kami sebagai masyarakat yang rugi, baru belum sebulan tapi sudah rusak parah,” tukasnya. (Firman Jaya).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.