Dituding Intimidasi Ketua PMKRI Ruteng, Ini Klarifikasi Kapolres Mabar

0 684

LABUAN BAJO– Kapolres Manggarai Barat AKBP Bambang Hari Wibowo angkat bicara terkait tudingan intimidasi yang diutarakan oleh Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng Hendrikus Mandela.

Bambang menuturkan, perekaman video permintaan maaf Ketua PMKRI Ruteng tersebut disaksikan oleh 11 orang. Bambang akui permintaan maaf tersebut juga diakui tokoh agama yakni Romo Rikar Mangu dan Romo Silvi Mongko dari Keuskupan Ruteng.

“Kegiatan perekaman disaksikan 11 orang dan ada Romo Silvi dan Romo Rikar. Pada saat yang bersangkutan datang bukan dalam rangka periksa dan proses sidik (penyidikan-red). Namun datang ketika saya dan para tokoh sedang rakor mempersiapkan pengamanan ibadah Paskah di gereja yang berada di Kabupaten Mabar,” ujar Bambang kepada Infolabuanbajo.com, Selasa (30/3/2021) malam.

Dalam kesempatan itu kata Bambang, pihaknya memperlihatkan rekaman jumpa pers Polres Mabar 19 maret 2021 terkait kasus dugaan penganiayaan Yosef Sudirman Bagu.

“Dalam rekaman tersebut jelas ada pernyataan saya yang telah membuktikan bahwa berita yang dimuat berdasarkan statement ketua PMKRI ruteng semuanya tidak sesuai fakta dan disebarkan tanpa melakukan klarifikasi terhadap Polres Mabar yang menangani perkara tersebut,” katanya.

“Saya juga menunjukkan bukti surat panggilan 3 kali kepada yang bersangkutan (Yosef-red) di depan forum yang hadir. Saya juga jelaskan kasus tersebut sudah diselesaikan secara perdamaian diantara para pihak, (restorative justice system),” tambahnya.

Pada prinsipnya kata Bambang, Ketua PMKRI Ruteng telah mengakui kekeliruannya dihadapan forum yang disaksikan pemuka agama Katolik.

“Dalam rekaman tersebut jelas sekali gestur dari ketua PMKRI terlihat sangat santai dan tidak ada tanda-tanda intimidasi, dan yang bersangkutan dengan sukarela mengakui kesalahannya telah melakukan kesalahan sesuai statement yang beredar,” jelasnya.

“Pada saat itu di depan forum saya juga telah menanyakan kesediaan yang bersangkutan apakah bersedia rekaman tersebut dishare di media sosial karena yang bersangkutan telah melakukan kesalahan di media sosial yang mengakibatkan tercemarnya nama baik institusi TNI dan POLRI,” tukasnya. (Ricko).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.