Ditangkap Densus 88, Satu Terduga Teroris Jamaah Islamiyah Kerja di Kimia Farma

0

JAKARTA-Jaringan teroris dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) masih merajalela di tanah air. JI merupakan kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris dengan wilayah operasi di Asia Tenggara. Kelompok ini bertanggung jawab atas serangan bom Bali pada 2002.

Densus 88 Mabes Polri sempat menyatakan setidaknya ada 6.000 anggota dan simpatisan JI. Mereka diduga sering berpindah-pindah tempat.

Kasus terbaru, Densus 88 antiteror kembali melakukan penangkapan terhadap terduga teroris jaringan tersebut pada Jumat (10/9/2021).

Ada tiga terduga teroris dari kelompok tersebut yang ditangkap. Dari ketiga terduga teroris tersebut, dua di antaranya ditangkap di wilayah Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat
yang berinisial MEK dan S.

Terduga teroris MEK lebih tepatnya ditangkap di wilayah Jalan Duwet, RT 01 RW 05, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Sedangkan terduga teroris S ditangkap di Jalan Bangau IX, RT 3 RW 23, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Sementara terduga teroris berinisial T alias AR ditangkap di Perumahan Griya Syariah 2 Blok G Nomor 05, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Menariknya, terduga teroris yang berinisial S merupakan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diketahui bekerja di PT Kimia Farma Tbk.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk. Verdi Budidarmo membenarkan satu dari tiga orang terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri adalah karyawan Kimia Farma.

“Dari hasil penelusuran, salah satu terduga berinisial S merupakan karyawan Kimia Farma,” kata Verdi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/9/2021).

Verdi menerangkan, pihak perusahaan telah memberlakukan skorsing dan pembebasan tugas sementara waktu selama S menjalani pemeriksaan terhitung sejak 10 September 2021.

Menurut Verdi, apabila karyawan tersebut terbukti bersalah secara hukum maka akan dikenakan sanksi pelanggaran berat sesuai peraturan perusahaan yang berlaku. Sanksi itu berupa pemutusan hubungan kerja dengan tidak hormat dan otomatis sudah tidak menjadi bagian dari Perusahaan.

“Namun jika ternyata tidak terbukti terlibat dalam jaringan terorisme, perusahaan akan melakukan tindakan mendukung pemulihan nama baiknya,” katanya.

Verdi menerangkan, PT Kimia Farma Tbk. tidak mentoleransi aksi radikalisme dan terorisme dalam bentuk apapun, termasuk di internal perusahaan sehingga mendukung aparat dalam memerangi tindakan tidak terpuji tersebut.

“Kimia Farma sangat mendukung sepenuhnya upaya seluruh aparat penegak hukum guna memerangi terorisme di seluruh lingkungan perusahaan dan mendukung upaya aparat penegak hukum untuk memproses secara hukum atas tindakan yang dilakukan oleh oknum karyawan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku,” tukasnya. (Ricko).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.