Dililit Utang Puluhan Triliun, Ini 4 Opsi Selamatkan Garuda Indonesia

0

JAKARTA-Perusahaan transportasi udara milik negara PT. Garuda Indonesia Tbk tengah dililit utang puluhan triliun rupiah. Adapun, utang maskapai kebanggaan Indonesia tersebut mencapai US$ 5,65 miliar setara dengan Rp 79.51 triliun.

Dengan beban utang demikian besar, maka kerugian perusahaan burung besi tersebut mencapai US$ 1,1 miliar atau Rp 15,7 triliun pada kuartal III-2021. Nilai tersebut (akan) bertambah terus setiap bulan kisaran Rp 1 triliun jika pembayarannya terus ditunda.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI Rafli mendesak PT Garuda Indonesia untuk segera melakukan restrukturisasi secara menyeluruh. Adapun, restrukturisasi itu mencakup sisi manajemen, pelaksanaan teknis, hingga operasional.

Ia menyebut, perusahaan ini telah menghadapi kondisi berat dalam beberapa tahun ke belakang karena beban utang yang mencapai puluhan triliun.

Rafli Kande, Komisi VI DPR RI. (Kredit foto: Pemberitaan DPR.RI)

Dalam keterangannya kepada awak media di Parlemen, Rafli menilai, persoalan keuangan yang dialami Garuda Indonesia harus segera diselesaikan. Tujuannya agar perusahaan pelat merah itu tidak mengalami kebangkrutan sebagaimana yang pernah disampaikan Menteri BUMN Erick Tohir awal Juni tahun ini.

“Persoalan Garuda sudah sangat menyesakkan dada. Sesungguhnya kita harus tahu karena kerugian Garuda bukan hanya di masa pandemi. Hari ini sudah tidak bisa dibendung lagi, bengkaknya (utang) sudah luar biasa,” kata lesgislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Untuk itu, legislator asal daerah pemilihan Aceh ini meminta pihak manajemen PT. Garuda Indonesia mengkaji ulang pembayaran penuh gaji karyawan.

“Besaran beban operasional tersebut kini tak sebanding dengan pendapatan emiten lantaran frekuensi penerbangan terus menyusut. Jadi restrukturisasi ini bagaimana caranya melakukan efisiensi manajemen di tubuh Garuda,” imbuhnya.

Ia menyebut, bahwa beban paling besar berasal dari perjanjian kerja sama dengan lessor. Perusahaan pelat merah tersebut tengah menjajaki renegosiasi dengan lessor-lessor-nya untuk mengurangi tanggungan.

Adapun kata Rafli, pihak perusahaan tengah menghimpun sejumlah opsi penyelamatannya. Opsi-opsi penyelamatan juga dirumuskan oleh Kementerian BUMN sebagai pemegang saham terbesar Garuda.

Empat Opsi Penyelamatan

Rafli menyebut ada tiga opsi dalam upaya penyelamatan perusahaan yang bernaung di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Opsi pertama, Kementerian BUMN memberikan dukungan penuh melalui suntikan pinjaman atau ekuitas.

Selanjutnya, opsi kedua, Kementerian BUMN menggunakan perlindungan hukum kebangkrutan agar Garuda bisa merestrukturisasi kewajiban utang, sewa, dan kontrak kerjanya.

Opsi ketiga, yakni langkah yurisdiksi, dan opsi keempat, adalah Garuda Indonesia harus membentuk maskapai baru.
Rafli mengatakan, Komisi VI DPR RI telah mendengar adanya opsi-opsi tersebut. Karenanya, dia berharap Kementerian BUMN dapat segera menggodok keempat opsi itu karena masing-masing memiliki konsekuensi yang besar.

“Terus terang, kita tidak rela kalau (sampai) Garuda mati terbengkalai dan tidak terselamatkan,” tutup Rafli, di Jakarta, Jumat pekan lalu. ** DL.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.