Diduga Main Kasus, Ses Jamdatun Kejagung Dilaporkan Ke Polda Metro Jaya

0

JAKARTA- Advokat Jaka Maulana, SH dari LQ Indonesia Lawfirm melaporkan Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejagung Chaerul Amir ke Polda Metro Jaya pada Jumat (26/3/2021).

Tak hanya Chaerul, Jaka juga melaporkan advokat bernama Natalia Rusli. Laporan tersebut diterima dengan LP No 1671/III/ YAN 2.5 /2021 / SPKT PMJ Tanggal 26 Maret 2021.

Jaka dalam laporan tersebut mewakili kliennya berinisial SK (52) atas dugaan kasus penipuan dengan sangkaan pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Menurut Jaka, kasus penipuan tersebut berawal ketika anak kandung kliennya bernama Christian Halim ditahan di Polda Jawa Timur (Jatim) terkait masalah sengketa infrastruktur.

“SK bertemu dengan Lawyer bernama Natalia Rusli dan dijanjikan untuk menangguhkan penahanan anaknya, melalui Chaerul Amir, pejabat Tinggi Kejagung yang saat itu menjabat sebagai Sesjampidum,” ujar Jaka kepada wartawan, Sabtu (27/3/2021).

Menurut Jaka, Natalia Rusli meyakinkan kliennya bahwa Chaerul Amir selaku Ses Jampidum mampu memberikan penangguhan penahanan bagi anaknya. Bahkan kata Jaka, Natalia Rusli menyebut pihak lawan anak kliennya diduga telah mengondisikan kejaksaan Tinggi Jatim dan Pengadilan Negeri Surabaya.

“Maka SK menyerahkan uang sejumlah 500 juta dalam pecahan 100 dollar US kepada Natalia Rusli,” jelasnya.

“Karena rasa khawatir bahwa anak saya Christian Halim sudah di setup oleh pihak lawan, maka demi melepaskan anak saya, saya percaya kata-kata Natalia Rusli dan Chaerul Amir yang bilang akan membantu penanguhan anak saya melalui Kepala kejati Jatim, saya serahkan 500 juta uang hasil jual mobil pribadi saya,” tambah Jaka mengutip perkataan kliennya.

Bahkan kata Jaka, kliennya dipertemukan oleh Natalia Rusli dengan Chaerul Amir. Pertemuan tersebut kata Jaka membuat kliennya percaya keduanya mampu menolong anaknya.

Akan tetapi kata Jaka, fakta berbicara lain. Natalia ternyata malah meminta uang sejumlah Rp1 Milyar dalam pecahan 100 US Dollar. Uang tersebut untuk menebus tuntutan Jaksa.

Klien Jaka pun ragu dengan permintaan tersebut. Sebab kliennya mengaku kehabisan uang. Padahal anak kliennya belum keluar dari tanahan. Alasan itulah yang membuat kliennya tak mengindahkan tawaran Natalia.

“Ternyata, penangguhan penahanan yang dijanjikan tidak kunjung turun dan sidang berlanjut hingga hari ini tetap Christian Halim ditahan,” katanya.

Atas hal tersebut kata Jaka, pihaknya langsung membawa perkara tersebut ke Polda Metro Jaya. “Informasi dari Natalia dan Ses Jampidum bahwa pihak lawan sudah mengkondisikan jaksa di Kejati Jatim dan disebutkan ketika perkara masih di kepolisian bahwa Jaksa yang akan memegang kasus Christian Halim adalah Dhini yang menjabat Kasubsi Oharda, dan ternyata setelah di cek, benar kemudian di pegang Dhini,” katanya.

“Natalia Rusli sempat mempertemukan saksi korban dengan Dhini di Kejati Jatim. Yang kemudian di sampaikan oleh Natalia Rusli bahwa Aspidum dan Kajati Jatim sudah dikondisikan oleh pihak Christeven Mergonoto dan saat itu Jaksa Dhini menyebutkan bahwa Hakim yang akan menangani perkara adalah Hakim Ginting di PN Surabaya,” tamhanya.

Berdasarkan penuturan Natalia dan Ses Jampidum kata Jaka, perkara Christian Halim sudah diatur oleh oknum Kejati Jatim dan oknum Pengadilan Negeri Surabaya.

“Ternyata benar hakim yang menangani kasus Christian adalah hakim Ginting sesuai keterangan Dhini Kasubsi Oharda Kejati Jatim. Hebat sekali kekuatan oknum Kejati Jatim sehingga dapat mengatur siapa hakim yang akan menyidangkan dan mengatur putusan sidang nantinya,” tegasnya.

Jaka pun menghimbau agar aparat pengawas seperti KPK, Jamwas dan Bawas MA serta Komisi Yudisial mau mengawasi jalannya kasus Christian Halim di PN Surabaya, Jawa Timur.

Jaka menduga kasus Christian Halim sarat permainan oknum dan dugaan gratifikasi. Pasalnya, mustahil Oknum Jaksa Kejati Jatim dapat memilih hakim tanpa gratifikasi ke aparat Pengadilan Negeri Surabaya.

“Buktinya setelah kami membuat pengaduan, Hakim Ginting diganti oleh Hakim Made. Sudah ada indikasi awal permainan yang sarat dan patut diduga ada permainan dan dugaan gratifikasi ke oknum Kejati Jatim dan PN Surabaya,” tegasnya.

Redaksi sudah menghubungi Chaerul Amir dan Natalia Rusli melalui pesan whats app, tetapi belum direspon (Ricko)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.