Dekrit Pencerdasan Bangsa untuk Indonesia Lebih Baik

0

JAKARTA– Wartawan senior Freddy Ndolu kembali melahirkan sebuah buku berjudul; Atas Nama Publik:Transformasi Lembaga Penyiaran Publik Sebagai Media Layanan Publik Multiplatform. Buku ini khusus dihadirkan menyongsong 100 tahun Radio Republik Indonesia pada tahun 2045.

Sebagaimana diakui oleh penulisnya, buku ini ia hadirkan terutama sebagai bentuk pertanggungjawabannya pada rakyat Indonesia yang telah membiayai operasional RRI melalui APBN dan penulis sendiri adalah bagian dari Layanan Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia(LPP RI) baik sebagai mantan broadcaster maupun anggota
Dewan Pengawas RRI mewakili unsur publik periode 2016-2021.

Dapat dicermati dalam buku ini rasionalitas yang dibangun penulis bahwa kerja menginformasi, mengedukasi dan menghibur (educate, inform and entertain) yang dilakukan berbagai media layanan publik di dunia (seperti BBC, NHK, ABC dll) adalah kerja jurnalistik berstandar tinggi yang menjadi kebanggaan seluruh warga negaranya.

Di satu pihak, itu adalah bentuk pertanggungjawaban media pelayanan
publik untuk kepercayaan yang diberikan warga Negara, dilain pihak ia adalah
esensi dari kerja layanan publik yang berbasis pada kebenaran dan moral.

Telusur yang dilakukan penulis memperlihatkan bahwa menjaga marwah media layanan publik sebagai penjaga kebenaran berbasis moral bukankah sesuatu yang mudah di sejumlah Negara.

Kepentingan politik berkelindan menyelinap masuk untuk menguasai ruang publik demi kepentingan politik jangka pendek (next election), padahal kerja media sebagai pilar keempat demokrasi (fourth estate of demnocracy) adalah menyiapkan landasan hari ini untuk generasi berikutnya (next generation).

Tantangan berikutnya adalah hadirnya media baru berbasis internet bernama medsos yang bekerja cepat menyebarkan hoax, ujaran kebencian, fake news, rekayasa dan manipulasi suara dan gambar untuk mengacaukan pemikiran publik.

Dalam arti yang lain pembodohan publik.
Pada tempat pertama, public service media harus tampil di garis depan sebagai penjernih (purifier) iklim informasi yang keruh untuk menaikan tingkat kecerdasan publik.

Tetapi persoalan menjadi tidak mudah karena media layanan publik sendiri dihadapkan pada tiga krisis sekaligus : identitas kelembagaan, pembiayaan dan fungsi.

Penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan mencerdaskan bangsa tidak bisa dilakukan hanya oleh satu badan atau sebagian lembaga tetapi oleh seluruh elemen bangsa maupun individu.

Membenahi media layanan publik
untuk berfungsi mencerdaskan bangsa hanyalah satu langkah kecil dalam
keseluruhan sistem bernegara.

Bab 7 Buku ini memprovokasi pemikiran untuk menghadirkan sebuah kebijakan
holistik dalam bentuk Dekrit Pencerdasan Bangsa didalamnya peran dan fungsi setiap lembaga, badan, partai politik, masyarakat sipil, media massa maupun individu dalam rangka pencerdasan kehidupan bangsa terkonsepkan secara jelas dengan langkah-langkah yang terukur. (Redaksi).

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.