Darah Komodo, ‘Superbugs’ Dan Senjata-Biologis (3)

0

Oleh: Servas Pandur (Direktur Institut Komodo, Jakarta)

“Bagaimanapun Komodo dan Naga harus bisa hidup berdampingan dan rukun dikedua negara ini!” Begitu ucapan Liu Jianchao, Duta Besar Tiongkok untuk Negara Kesatuan RI (NKRI), yang masih tersimpan di arsip berita Presiden dan Pemerintah pada Sekretariat
Negara, saat berkunjung ke Kantor Mensesneg RI, Jakarta, Senin, 16 April 2012.

Liu Jianchao menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah upacara penerimaan pada 9 Maret 2012 di Istana Merdeka,
Jakarta. Dubes Liu tiba di Jakarta pada 7 Maret 2012. Begitu antara lain Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta, menyimpan fail tentang Liu Jianchao, selama 9 tahun terakhir.

Ucapan Dubes Liu tentang Komodo-Naga mengingatkan ‘diplomasi Komodo’ era Presiden RI Soeharto dengan Amerika Serikat. Selasa, 10 April 2012, Wakil Presiden RI Prof.Dr. Boediono menerima Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Hui Liangyu, di Kantor Wakil Presiden RI, Jakarta. Isi pembicaraan antara lain tukar-menukar ikon ‘hidup’ kedua negara berupa Komodo asal Negara RI dan Panda asal Tiongkok. Ada pula laporan, ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Negara RI, Oktober 2013, rencana itu dibahas oleh pemerintah kedua negara (Satya Festiani, 2/4/2015).

Hasilnya, Kamis 28 September 2017, sepasang panda (Ailuropada Melanoleuca), Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), hasil pengembangbiakan China Wildlife Conservation Association (CWCA) tiba di Terminal Cargo Garuda Indonesia Bandara Soekarno Hatta,Tangerang, Banten. RI menjadi negara ke-16 tempat pengembang-biakan Panda raksasa asal Tiongkok (A. Lukas Altobeli, 2017).

Jejak ‘diplomasi Komodo’ Presiden RI Soeharto ke Amerika Serikat masih menjadi ‘aliving memory’. Presiden RI Soeharto membekukan hubungan diplomatik Negara RI -Tiongkok sejak Oktober 1967-Agustus 1990. Alasannya, ada petunjuk keterlibatan Tiongkok tahun 1950-an mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) dan upaya kudeta tahun 1965 di Negara RI (Graham Hutchings, 2003:224-225; Rizal Sukma, 1999:44-60)

Upaya normalisasi hubungan RI-Tiongkok dibahas oleh Presiden RI Soeharto dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Qian Qichen, di Tokyo, Jepang, ketika menghadiri upacara pemakaman Kaiser Jepang, Hirohito, 24 Februari 1989 (Rini Utami et al, 2015). Hasilnya, 14-18 November 1990, Presiden RI Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Hasilnya, ada penanda-tanganan suatu Joint Commission of Economy, Trade and Technical
Cooperation antara RI-Tiongkok (Michael R. J. Vatikoitis, 2013; J. Hoslag, 2015).

Usai dibuka kerannya ke zona Negara RI awal 1990-an, Tiongkok mendapat celahmaju sebagai kekuatan kawasan hingga awal abad 21. Tanpa ada jejak kisah ‘riset’ Komodo. Sedangkan ahli-ahli asal Amerika Serikat melanjutkan banyak riset tentang Komodo kira-kira 90 tahun terakhir. Bahkan kini riset Komodo termasuk satu dari contoh kinerja intelijenilmiah (scientific intelligence) Amerika Serikat (AS) hingga awal abad 21.

Intelijen-ilmiah AS menjelaskan kedigjayaan AS sejak pertengahan abad 20. Pionirnya– melalui Manhattan Project yang meracik bom atom ke Hirosima dan Nagasaki pada Perang Dunia II – antara lain ahli fisika Albert Einstein. Rumus ekuivalensi energi dan zat (matter), reaksi nuklir, efek foto-listrik, struktur atom dan inti hingga mekanika quantum Max Planc (901), Einstein (1906), Bohr (1013), dan Heisenberg (1927), menjadi unsur strategis bagi
keamanan negara (national security) AS (Edward Toton et al, 2008: 1,10-11).

Pesan Einstein : “Look deep into nature, and then you will understand everything better.” (Anton du Plessis, 2019) Pesan ini menjadi tradisi intelijen-ilmiah AS selama ini. Misalnya, sejak pertama-kali Komodo masuk ke kebun binatang di AS tahun 1926, sejak itu pula riset ilmiah terhadap Komodo dirintis oleh ahli-ahli AS (Richard L. Lutz et al, 1997).

Tahun 1927, William Douglas Burden (24 September 24, 1898 – 14 November 1978), naturalis asal AS, menulis buku Dragon Lizards of Komodo: An Expedition to the Lost World of the Dutch East Indies. Ketika itu, zona Komodo, Rinca, Flores, dan sekitarnya yang
menjadi asal-usul wilayah-hidup Komodo, termasuk Hindia Belanda. Burden adalah alumnus
Harvard College (1922) dan Columbia University (1926).

Tahun 1926, Burden dan istrinya, Catherine, melakukan ekspedisi ke Pulau Komodo. Burden dan timnya berhasil menangkap Komodo dengan berat 350 pon (175 kg) dan
panjang 10 kaki (3,048 meter). Burden dan timnya mengumpulkan 3.000 spesimen serangga dan amfibi dari Pulau Komodo. Burden membawa dua Komodo ke Kebun Binatang Bronx,
AS. Ketika Perang Dunia II, Burden membuat penangkat hiu untuk Angkatan Laut AS (US
Navy) (Campbell, 1978).

Tanggal 30 September 1927, Emmet Reid Dunn (1927:2) menulis laporan tentang
hasil-hasil Ekspedisi Douglas Burden ke Pulau Komodo tahun 1926 : “…One more specimen
has been sexed, the larger of two taken to Bima by natives and later sent to Holland. This was a male… 20 skins were sent in the early days of 1927 by native poachers from Komodo to Macassar. Some of these skins found their way to London where one came under the
observation of Lord Rothschild (1927) and three of Mr. Burden.”

Ahli Komodo lainnya asal AS ialah Walter Auffenberg (6 Februari 1928 – 17 Januari 2004). Selama 40 tahun, Auffenberg meneliti reptil khususnya Komodo. Tahun 1969, Auffenberg dan keluarganya pindah dari AS ke Pulau Komodo dan menetap di Pulau Komodo selama 11 bulan hanya meneliti Komodo di habitat alamiahnya. Auffenberg meneliti lebih dari 50 Komodo (Mark Cheater, 2003).

Burden dan Auffenber tidak hanya sama-sama memiliki ‘passion’ riset Komodo. Tapi juga keduanya memiliki hubungan dengan US Navy. Misalnya, usai lulus SMA di Detroit, Michigan, AS, Auffenberg mendaftar ke US Navy dan mendapat pelatihan khusus Korps
Rumah Sakit di Corpus Christi, Texas, AS. Kemudian Auffenberg kuliah di jurusan Zoology pada Universitas Stetson, Dedland, AS, dan melanjutkan studi ke Universitas Florida (University of Michigan, 1945:26). Maka tidak heran, jika kini ahli-ahli asal AS masih giat meneliti darah Komodo antara lain bertujuan meracik anti-biotik generasi baru. ***

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.