DARAH KOMODO, ‘SUPERBUGS’ & SENJATA-BIOLOGIS (2)

0 351

Oleh: Servas Pandur

(Direktur Institut Komodo,Jakarta)

 

Rabu, 14 Januari 1998, ada kesibukan di kediaman Presiden RI Soeharto, Jl Cendana, Jakarta Pusat. Pagi itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) William S. Cohen, menemui Presiden RI Soeharto di Jl. Cendana-Jakarta. Selama 2 (dua) hari, Menhan AS Cohen, berada di Negara RI, dalam lawatan selama 12 hari ke 7 (tujuh) negara Asia.

Sejak masuk ke Jl Cendana pagi itu, Menhan AS Cohen menghabiskan waktu kira-kira 3 (tiga) menit melangkah ke suatu ruang pertemuan dan bersalaman dengan Presiden RI Soeharto. Menit berikutnya, Presiden RI Soeharto dan Menhan AS Cohen mengikuti sesi foto-foto, sebelum keduanya—masing-masing dengan asisten pribadi—mengadakan suatu pembicaraan khusus.

. (Dari kiri ke kanan) Menhan AS William S. Cohen dan Presiden RI Soeharto di Jl Cendana, Jakarta Pusat, Rabu 14 Januari 1998 (credit: AP Archieve).

 

“He (Suharto) is determined to rebuild the confidence necessary for stability throughout the region and, of course, he was very quick to point out, as he should, that the economic situation in Indonesia would have an economic impact on other countries in the region,” ungkap Menhan AS Cohen dalam jumpa pers di Jl Cendana, Jakarta, kira-kira 13 menit usai pertemuannya dengan Presiden RI Soeharto (AP, 14/1/1998).

Pernyataan Menhan AS Cohen saat itu mempertegas ‘strong message’ atau pesan kuat Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika Serikat) selama ini : (1) zona Negara Kesatuan RI adalah pintu masuk AS ke kawasan Asia; (2) Pemerintah RI harus mengikuti langkah reformasi ekonomi-politik paket ‘bailout’ senilai 43 miliar dollar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF).

“It is very clear President Suharto recognizes the need to take strong steps of the kind that are under discussion with the IMF,” papar Deputy Treasury Secretary Lawrence Summers yang berkunjung ke Jakarta, Selasa (13/1/1998) (AWJ, 13/1/1998).

Presiden RI Soeharto yang saat itu berusi 76 tahun, menjamin bahwa Pemerintah RI mengikuti paket reformasi ekonomi-politik ‘bailout’ 43 miliar dollar AS dari IMF. Respons pasar cukup kuat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta, Selasa (13/1/1998), naik 9.1% dan 1,8% pada perdagangan Rabu (14/1/1998) pagi. Nilai tukar rupiah menguat 5% terhadap dollar AS level Rp 8.175 per dollar AS pada sesi perdagangan Selasa (13/1/1998). (Reuters,14/1/1998).

Kamis 1 Oktober 1998, atau sekitar 8 bulan 14 hari pasca jumpa Presiden RI Soeharto di Jl Cendana-Jakarta, Menhan AS William S. Cohen, merilis pembentukan Defense Threat
Reduction Agency (DTRA). DTRA adalah merger Defense Technology Security Administration (DTSA), Defense Special Weapons Agency (DSWA) dan On-Site Inspection Agency (OSIA) dalam organisasi Pentagon AS (DOD News Briefing, 2/10/1988).

DTRA memadukan strategi, taktik, dan operasi merespons dan mencegah sistem senjata kimia dan biologi. “Today’s harsh reality is too powerful to ignore: at least 25 countries have, or are in the process of developing, nuclear, biological or chemical weapons and the means to deliver them ….” papar Menhan AS Cohen pada seremoni pembentukan DTRA di Dulles International Airport kira-kira pukul 2 siang, yang dihadiri oleh sekitar 2.000 tamu undangan (Joseph P. Harahan, et. al, 2002).

Hampir 20 tahun kemudian, tahun 2017, Monique L. Van Hoek dkk (2017) merilis hasil riset darah Komodo antara lain bertujuan menemukan ‘bioweapons’ atau senjatabiologis guna melawan ‘superbugs’—infeksi akibat bakteri atau kuman kedap-anti-biotik awal abad 21. Dana riset darah Komodo itu berasal dari DTRA. (Donald G. McNeil Jr, 2017).

Apakah riset darah Komodo itu suatu kebetulan? Senator William S. Cohen sangat dipengaruhi oleh serangan ‘gas sarin’ di Tokyo, Maret 1995. Dengan ‘gas sarin’, pengikut sekte Aum Shinrikyo menyerang tiga subway kereta api di Tokyo (Jepang). Akibatnya, 11 orang tewas dan 5.000 lainnya cedera. Tokyo panik. Ribuan orang antri ke pelayanan darurat medis Tokyo. (Josep P. Harahan, et al, 2002).

(Dari kiri ke kanan) Mata-rantai komando dan pembentukan DTRA tahun 1998 : Presiden AS Bill Clinton dan pembantunya, Menhan William S. Cohen dan Deputi Menhan Dr. John J. Hamre sebagai arsitek dan komandan DTRA. (Credit: Harahan et al, 2020)

Apakah sulit bagi ahli-ahli Pentagon mendapatkan darah Komodo? Tidak. Kini AS memiliki banyak penangkaran Komodo. Apalagi jejak diplomasi Pesiden RI Soeharto tahun 1980-1990 dengan Amerika Serikat, antara lain, terpateri dengan jejak Komodo asal KomodRinca atau Flores sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tahun 1986, Presiden RI Soeharto menawarkan sebuah ‘gift’ atau kado bagi masyarakat Amerika Serikat kepada Presiden AS Ronald Reagan saat berkunjung ke Bali. Rabu (11/5/1988), Dr. Dale Marcellini, kurator reptil kebun binatang National Zoo di Washington,D.C., Amerika Serikat, mengawal keberangkatan pasangan Komodo dari Jakarta ke AS. Kuasa Usaha Kedubes AS di Jakarta, Michael Conners, menyebut dua Komodo : ‘Sobat’ (jantan) dan ‘Friendty’ (betina).

AS cerdik, minta pasangan Komodo jantan-betina ke Presiden RI Soeharto. Tahun 1988, Ed Marsuka, direktur Cincinnati Zoo, datang ke Negara RI untuk membahas kemungkinan hibah Komodo. Rencana hibah itu dibahas usai presentasi resmi dari Presiden RI Soeharto tentang dua Komodo kepada Presiden AS George Bush tahun 1990. (Richard L. Lutz, et al, 1997:105). Akhir 1960-an, saat Presiden Soeharto berkunjung ke National Zoo, AS, ternyata Komodo betina di kebun binatang itu, telah mati; maka Presiden RI Soeharto menawarkan Komodo betina yang tiba di National Zoo, AS, tahun 1970 (DePrato, 1970).

Jumat 3 Juni 1988, Presiden RI Soeharto menanda-tangan prasasti peresmian dan penetapan Taman Nasional Komodo (TNK) di Pulau Komodo, Manggarai Barat, NTT. Diplomasi Komodo dari Presiden RI Soeharto baru berakhir tahun 1991. Karena tahun 1991, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan Taman Nasional Komodo (TNK) seluas 219.322 sebagai World Heritage Site dan Biosphere Reserve (Jim Singleton et al, 2002). UNESCO adalah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 16 November 1945 yang bermarkas di Paris, Perancis. ***

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.