Darah Komodo: Superbugs dan Senjata Biologis (4)

0

*Oleh: Servas Pandur

Hasil riset darah Komodo mengarah ke penemuan cara-baru menyembuhkan luka-infeksi. Begitu rilis hasil riset tim ahli biologi Monique van Hoek asal School of Systems Biology, George Mason University di Amerika Serikat, April 2017.

Tim Monique va Hoek terdiri dari ahli kimia (Barney M. Bishop asal George Mason University, Amerika Serikat), biologi (M. Dennis Prickett asal Università di Trieste, Italia dan Ken A. Vliet asal University of Florida, Amerika Serikat), sains-komputer (Robert E. Settlage asal Virginia Polytechnic
Institute and State University, Amerika Serikat), ahli obat (Pawel Michalak asal Institute of Evolution, University of Haifa, Israel dan Lin Kang asal Edward Via College of Osteopathic Medicine, Blacksburg, Amerika Serikat).

Tim ahli asal 3 negara itu dibiayai oleh Defense Threat Reduction Agency (DTRA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) sebesar 7,57 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 39.565.000.000,- dengan kurs Rp 14.500,- per dollar AS.

Mengapa DTRA kucurkan duit sangat besar itu untuk meneliti darah Komodo? DTRA ingin, tim Monique van Hoek menemukan senyawa-biologi-alamiah (bio-weapon) pembasmi infeksi akibat bakteri, khususnya wabah-infeksi kedap anti-biotik (superbugs).

Komodo memakan bangkai dan hidup di lingkungan banyak bakteri, bahkan bakteri patogen khususnya yang terdeteksi dari air-liur Komodo. Namun, Komodo jarang sakit. Jadi, Komodo memiliki kekebalan-bawaan sangat kuat terhadap infeksi.

Maka tim van Hoek meneliti khusus peptida pertahanan inang antimikroba yang menonjol pada reptil seperti Komodo daripada mamalia (Monique L. van Hoek et al, 2019).

Resistensi terhadap bakteri bukan lagi isu kesehatan biasa. Bagi DTRA, jenis wabah ini menyentuh keamanan nasional Amerika Serikat akhir-akhir ini. Karena itu, Februari 2021 silam, misalnya, DTRA kucurkan duit 1,4 juta dollar AS ke tim Mariette Barbier asal WVU School of Medicine, Amerika Serikat, guna meneliti terapeutik anti-bodi dan molekul kecil yang dapat membasmi infeksi-infeksi akibat bakteri kedap-antibiotik (West Virginia University, 16/2/2021).

Sebelum Covid-19 melanda Amerika Serikat awal 2020, menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 2,8 juta orang menderita infeksi akibat bakteri yang resisten terhadap anti-biotik per tahun di Amerika Serikat. Sekitar 35 000 orang dari penderita itu akhirnya meninggal (Bara Vaida, 2020).

Tentu saja, data ini hanya secuil dari kisah di balik riset darah Komodo di Amerika Serikat. Sejak awal 1940-an era Manhattan Project yang meracik bom atom (‘Little-Boy’) dijatuhkan ke Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Perang Dunia, jejak misi utama DTRA ialah ‘superioritas Amerika Serikat bidang IPTEK’, antara lain merespons atau kendali aneka jenis senjata pemusnah massal (weapons of massa destruction/WMD) (DTRA, 2021) Jenis riset darah Komodo termasuk riset berisiko tinggi.

Misalnya, sangat sedikit informasi biologi molekul tentang kekebalan reptil. Meski begitu, Bishop dan van Hoek bukan ahli kimia dan biologi umum. Keduanya sudah memiliki data akurat jumlah Komodo di seluruh dunia.

Sejak 2009, keduanya juga sudah meneliti aligator Tiongkok, aligator Myanmar, aligator Amerika Serikat, hingga buaya air. (Rosalie Chan, 2017) Sasarannya ialah menemukan anti-mikrobial alamiah. Riset darah Komodo dari tim Bishop dan van Hoek sudah memasuki fase pra-klinis. Tim ahli dan DTRA sudah siap-siap memasuki tahap
komersialisasi, jika hasil risetnya dapat melawan ‘superbugs’ kini dan masa datang.

Riset darah Komodo hanya satu contoh dari cara-kerja intelijen ilmiah Amerika
Serikat selama ini. Contoh lain, ahli-ahli bio-terorisme di Amerika Serikat juga meneliti teknik deteksi dini serangan bio-teroris. Misalnya, riset tim ahli Alexander Garza, M.D. M.P.H dan koleganya (Biosecurity and Bioterrorism, 2014).

Alexander Garza, M.D., M.P.H. adalah mantan kepala medis Department of Homeland Security dan tim peneliti pada Los Alamos National Laboratory milik US Army (Santa Fe, New Mexico) di Amerika Serikat.

Garza dkk (2014) mengkaji data eksperimen simulasi serangan bioteroris ke Pentagon, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Department of Defence / DoD) tahun 2005-2009. Pentagon Force Protection Agency (PFPA) membuat serangkaian simulasi serangan teroris dengan melepas satu jenis bakteri tidak berbahaya yang secara biologis mirip Bacillus anthracis-bakteri penyebab penyakit antraks ke Pentagon.

Tim ahli itu mengevaluasi prosedur-prosedur respons lokal terhadap serangan bioterorisme itu. Sejumlah ahli keamanan dalam negeri AS juga melakukan uji-coba kehandalan teknik
pengambilan sampel permukaan dan udara (Bio-Watch) guna deteksi-dini unsur biologis (biological agents) suatu lingkungan-serangan bioteroris.

Dalam uji-coba semacam itu, beberapa kg bahan biologis tidak berbahaya—termasuk simulan-simulan antraksi dilepas. Tim ahli-peneliti mengumpulkan sampel-sampel dari udara melalui unit pengambilan sampel protabel dan menganalisisnya dalam lab-lab khusus (Riya V. Anandwala, 2014). Begitu antara lain AS membangun trandisi intelijen-ilmiah (scientific intelligence) selama ini.

*Penulis adalah Direktur Institut Komodo, Jakarta.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.